Unilever Setop Rekrutmen Selama 3 Bulan Imbas Konflik Timur Tengah

Unilever menghentikan sementara rekrutmen global karyawan selama tiga bulan karena konflik di Timur Tengah.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 April 2026, 08:01 WIB
Raksasa barang konsumsi global, Unilever menghentikan sementara merekrut karyawan karena perseroan menghadapi tantangan signifikan di tengah konflik Timur Tengah. (UNVR) (Foto: web Unilever Indonesia)

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa barang konsumsi global, Unilever menghentikan sementara merekrut karyawan karena perseroan menghadapi tantangan signifikan di tengah konflik Timur Tengah.

Mengutip CNBC, ditulis Rabu (1/4/2026), Unilever, perusahaan induk dari merek-merek antara lain Dove, Axe, Comfort dan Hellman’s mengatakan pembekuan perekrutan akan mempengaruhi staf di semua tingkatan dan akan berlangsung selama tiga bulan. Demikian memo yang dilihat oleh Reuters.

"Realitas makroekonomi dan geopolitik, terutama dalam konflik Timur Tengah menghadirkan beberapa tantangan signifikan untuk beberapa bulan mendatang,” ujar Presiden of Unilever’s Personal Care Unit, Fabian Garcia dalam memo tersebut.

Melalui pernyataan kepada CNBC, Unilever menyebutkan, mencerminkan lingkungan eksternal yang tidak pasti, perseroan telah memutukan memberlakukan penghentian sementara perekrutan. “Kami tetap menjadi bisnis yang tangkas dan akan selalu menyesuaikan rencana kami sesuai kebutuhan,”

Unilever mempekerjakan 96.000 karyawan dan beroperasi di 190 negara. Kelompok bisnis intinya meliputi kecantikan dan kesehatan, perawatan pribadi, perawatan rumah tangga dan makanan.

Unilever telah berkomitmen pada 2024 untuk menghemat biaya sebesar 800 juta euro atau USD 918 juta. Jumlah itu sekitar Rp 15,61 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.010). Penghematan biaya itu akan mengurangi 7.500 posisi di kantor. Perseroan telah mencapai penghematan sebesar 670 juta euro atau Rp 13,11 triliun (asumsi euro terhadap rupiah di kisaran 19.570) pada akhir 2025 dan mengharapkan penghematan lebih lanjut sebesar 130 juta euro atau Rp 2,54 triliun pada 2026, berdasarkan laporan keuangan terbarunya.

 

Sektor Barang Konsumsi Termasuk Sektor Terdampak

Dua perahu tradisional berlayar melewati sebuah kapal kontainer besar di Selat Hormuz, Jumat, 19 Mei 2023. (AP/Jon Gambrell)

Sektor barang konsumsi termasuk di antara beberapa sektor yang terdampak oleh perang Amerika Serikat-Iran yang dimulai pada 28 Februari dan menyebabkan harga minyak melonjak hingga lebih dari USD 100 per barel, menimbulkan kekhawatiran tentang harga bensin dan inflasi yang lebih luas di sektor makanan, transportasi dan barang rumah tangga.

Maskapai termasuk yang paling langsung terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar jet, yang naik 103% dibandingkan bulan lalu, menurut data dari minggu yang berakhir pada 27 Maret, melalui Asosiasi Transportasi Udara Internasional.

Perusahaan ritel juga terdampak di berbagai tingkatan, mulai dari gangguan rantai pasokan yang menyebabkan kenaikan biaya, hingga tekanan inflasi yang merugikan pengeluaran konsumen untuk barang-barang non-esensial.

 

Kenaikan Harga

Penutupan lalu lintas pelayaran yang melalui Selat Hormuz oleh Iran, pasca serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu, berdampak langsung dan signifikan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Tampak foto yang menunjukkan tampilan bercahaya harga BBM di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Perusahaan Inggris, Next dan H&M memperingatkan kenaikan harga pekan lalu jika ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah berlanjut selama beberapa bulan ke depan.

Harga pangan global adalah area lain yang berpotensi mengalami kenaikan, karena perang mengganggu pengiriman pupuk dan mendorong harga lebih tinggi. Lebih dari sepertiga pupuk yang diperdagangkan secara global melewati Selat Hormuz.

Hal ini akan membuat biaya penanaman tanaman menjadi lebih mahal bagi petani selama periode musim semi yang krusial. Akibatnya, ekonom mengatakan kepada CNBC harga pangan dapat naik dalam beberapa bulan mendatang, menambah tekanan inflasi bagi konsumen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya