Liputan6.com, Jakarta - PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) memastikan tetap mampu menjaga stabilitas operasional di tengah potensi kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Perusahaan mengandalkan mekanisme penyesuaian biaya kepada pelanggan untuk meredam dampak lonjakan harga minyak dunia.
Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani M. Mulia, mengatakan bahwa fluktuasi harga bahan bakar kapal atau bunker merupakan hal yang sudah biasa dihadapi industri pelayaran.
Advertisement
Menurut Bani, setiap terjadi kenaikan harga bahan bakar, perusahaan memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian melalui surcharge atau biaya tambahan kepada pelanggan. Skema ini menjadi strategi utama dalam menjaga keseimbangan biaya operasional.
"Ya sebagaimana sering saya jelaskan sebelumnya bahwa apabila ada kenaikan maupun penurunan dari harga bunker atau (biaya) bahan bakar yang dipakai oleh operasional kapal. Biasanya kami tentu bisa melakukan surcharge kepada para customer," kata Bani dalam konferensi pers Laporan Kinerja Tahun Buku 2025, secara virtual, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, surcharge tersebut memungkinkan perusahaan secara langsung mengalihkan beban kenaikan biaya kepada pengguna jasa. Dengan begitu, dampak kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan.
Tidak hanya saat harga naik, perusahaan juga melakukan penyesuaian sebaliknya. Ketika harga bahan bakar turun, Samudera Indonesia dapat memberikan potongan biaya kepada pelanggan sebagai bentuk penyesuaian tarif.
"Bisa malah menaikkan pendapatan melalui surcharge (biaya tambahan) maupun juga kita bisa memberikan potongan apabila ada penurunan dari bunker price," ujarnya.
Operasional Tetap Stabil
Menurut Bani, dengan strategi tersebut, Samudera Indonesia menilai fluktuasi harga bahan bakar tidak menjadi ancaman signifikan bagi keberlangsungan bisnis. Sistem penyesuaian tarif dinilai cukup efektif dalam menjaga margin perusahaan.
Bani menegaskan bahwa hingga saat ini, kenaikan maupun penurunan harga bahan bakar belum mengganggu operasional perusahaan secara keseluruhan.
"Jadi, sampai sejauh ini kenaikan dan penurunan bahan bakar tidak mengganggu operasional dari perusahaan," ujarnya.
Kinerja SMDR Tahun 2025
PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) mencatatkan pendapatan sebesar USD 801,7 juta sepanjang Tahun Buku 2025. Angka ini meningkat 9% dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya.
"Pendapatan atau revenue untuk Tahun Buku 2025 mencapai USD 801,7 juta, 9% lebih tinggi dibandingkan pendapatan full year untuk Tahun 2024," ujarnya.
Selain itu, SMDR membukukan laba bersih (net income after tax) sebesar USD 52,1 juta, naik 3% dibandingkan periode 2024. Pertumbuhan ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas meskipun menghadapi tekanan eksternal.