Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin, turun 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp 17.002 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.980 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar saat ini masih mencermati potensi eskalasi konflik yang semakin meluas.
Advertisement
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (30/302026).
Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi dilaporkan kembali meluncurkan serangan rudal ke Israel. Kelompok tersebut menyatakan akan terus melakukan serangan hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.
Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, juga menegaskan dukungan terhadap Iran dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global karena berpotensi memperluas konflik di kawasan strategis, termasuk jalur perdagangan penting seperti Laut Merah.
Sentimen Global dan Data AS Tekan Pergerakan Rupiah
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari sentimen ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat.
Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan positif dan kesepakatan mungkin segera tercapai. Namun, ia juga memperingatkan adanya kemungkinan serangan lanjutan terhadap Teheran, yang menambah ketidakpastian di pasar.
Dari sisi data ekonomi, laporan dari University of Michigan menunjukkan penurunan kepercayaan konsumen AS.
“Sentimen Konsumen pada bulan Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada bulan Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen,” ungkap Ibrahim.
Kondisi ini memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kurs JISDOR
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga tercatat melemah ke level Rp 16.993 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp 16.957 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.