Rupiah Akhirnya Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Rupiah melemah ke Rp 17.002 per dolar AS dipicu konflik Timur Tengah dan sentimen ekonomi global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 30 Maret 2026, 18:00 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin, turun 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp 17.002 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.980 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar saat ini masih mencermati potensi eskalasi konflik yang semakin meluas.

“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (30/302026).

Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi dilaporkan kembali meluncurkan serangan rudal ke Israel. Kelompok tersebut menyatakan akan terus melakukan serangan hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.

Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, juga menegaskan dukungan terhadap Iran dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global karena berpotensi memperluas konflik di kawasan strategis, termasuk jalur perdagangan penting seperti Laut Merah.

 

Sentimen Global dan Data AS Tekan Pergerakan Rupiah

Teller menunjukkan uang dolar dan rupiah di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari sentimen ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat.

Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan positif dan kesepakatan mungkin segera tercapai. Namun, ia juga memperingatkan adanya kemungkinan serangan lanjutan terhadap Teheran, yang menambah ketidakpastian di pasar.

Dari sisi data ekonomi, laporan dari University of Michigan menunjukkan penurunan kepercayaan konsumen AS.

“Sentimen Konsumen pada bulan Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada bulan Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen,” ungkap Ibrahim.

Kondisi ini memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

 

Kurs JISDOR

Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga tercatat melemah ke level Rp 16.993 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp 16.957 per dolar AS.

Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya