Liputan6.com, Jakarta - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur bergerak cepat melakukan penelusuran kontak erat (tracing) menyusul wafatnya dr. AMW (26), seorang dokter muda yang diduga meninggal akibat suspek penyakit campak. Langkah ini diambil untuk memastikan kondisi kesehatan keluarga serta kerabat almarhum.
Kepala Dinkes Cianjur, Made Setiawan, mengungkapkan bahwa pemeriksaan kesehatan telah dilakukan terhadap orang-orang terdekat yang sempat melakukan kontak langsung dengan almarhum sebelum meninggal dunia.
Advertisement
"Kami telah melakukan pemeriksaan kesehatan dan penelusuran terhadap keluarga dan orang yang kontak langsung guna memastikan kondisi kesehatan mereka, termasuk memberikan suplemen vitamin," ujar Made di Cianjur, Sabtu (28/3/2026).
Penyebab Suspek Campak Tunggu Hasil Lab
Terkait penyebab pasti kematian, Made menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel serum darah dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat di Bandung.
"Kami belum bisa memastikan penyebabnya karena masih menunggu hasil lab. Jika sudah keluar, baru bisa kita pastikan penyebab meninggalnya dr. AMW," tambahnya.
Almarhum diketahui merupakan lulusan Universitas Indonesia (UI) yang baru bertugas sebagai dokter internship di RSUD Pagelaran selama satu bulan terakhir.
Investigasi Bersama Kemenkes
Kasus ini menarik perhatian serius Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Tim Penyelidikan Epidemiologi (PE) telah diterjunkan untuk menginvestigasi sumber penularan dan menilai risiko di wilayah setempat.
Berdasarkan investigasi sementara, pasien dilaporkan mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, serta sesak napas berat akibat komplikasi pneumonia.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya tenaga medis tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak.
"Orang dewasa yang belum pernah divaksinasi atau terinfeksi campak tetap memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius hingga berakibat fatal," jelas Aji.
Pihak RSUD Cimacan dilaporkan telah melakukan upaya medis maksimal sesuai standar pada 26 Maret lalu sebelum pasien akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Saat ini, tim kesehatan terus memantau situasi di lapangan dan mendorong masyarakat untuk segera melengkapi status imunisasi sebagai perlindungan paling efektif terhadap virus campak.