Liputan6.com, Jakarta - Campak adalah penyakit menular yang kerap dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Banyak yang mengira campak hanya sebatas ruam merah dan demam yang akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam kondisi tertentu, campak dapat berkembang menjadi penyakit serius yang berujung pada komplikasi berat hingga kematian.
Secara medis, campak adalah penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus dalam keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak. Namun, mengutip keslan.kemkes.go.id pada Sabtu, 28 Maret 2026, orang dewasa yang belum memiliki kekebalan juga tetap berisiko terinfeksi.
Advertisement
Penularan Campak Sangat Mudah dan Cepat
Salah satu hal yang membuat campak berbahaya adalah tingkat penularannya yang sangat tinggi. Virus campak dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Bahkan, virus ini juga bisa menyebar melalui udara (airborne) dan bertahan di permukaan benda selama beberapa jam.
Penularan dapat terjadi melalui:
- Percikan saliva dari batuk atau bersin
- Kontak langsung dengan cairan tubuh penderita
- Menyentuh benda yang terkontaminasi virus
Hal ini membuat campak sangat mudah menyebar, terutama di lingkungan padat penduduk atau dalam keluarga dengan anggota yang belum memiliki kekebalan.
Gejala Awal Campak yang Sering Diabaikan
Gejala campak sering kali mirip dengan penyakit flu biasa, sehingga banyak orang tidak langsung menyadarinya. Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:
- Demam tinggi
- Batuk kering dan pilek
- Mata merah dan sensitif terhadap cahaya
- Tubuh terasa lemas dan tidak bertenaga
- Muncul ruam merah di kulit
- Bercak putih keabu-abuan di dalam mulut
Selain itu, penderita juga bisa mengalami diare, muntah, serta penurunan nafsu makan. Gejala ini biasanya muncul secara bertahap dan bisa semakin parah jika tidak ditangani dengan baik.
Risiko Komplikasi yang Mengancam Nyawa
Campak bukan sekadar penyakit ringan. Pada individu dengan daya tahan tubuh rendah, penyakit ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius.
Beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai antara lain:
- Pneumonia (radang paru)
- Ensefalitis (radang otak)
- Infeksi telinga
- Dehidrasi akibat diare dan muntah
- Kebutaan
- Gizi buruk
Dalam kasus yang berat, komplikasi tersebut dapat berujung pada kematian. Oleh karena itu, penting untuk tidak meremehkan gejala campak, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Siapa yang Berisiko Terkena Campak?
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama terhadap campak. Beberapa kelompok yang lebih rentan antara lain:
- Bayi di atas usia 1 tahun yang belum diimunisasi
- Anak-anak yang tinggal di lingkungan padat
- Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif
- Individu yang bepergian ke daerah dengan kasus campak tinggi
- Orang dengan kekurangan vitamin A
Selain itu, remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi lengkap juga memiliki risiko tinggi mengalami infeksi dan komplikasi.
Pentingnya Imunisasi dan Pencegahan
Kabar baiknya, campak adalah penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Vaksinasi membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus, sehingga dapat mencegah infeksi atau mengurangi tingkat keparahan penyakit.
Selain imunisasi, beberapa langkah pencegahan lain yang bisa dilakukan antara lain:
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
- Rutin mencuci tangan dengan sabun
- Mengonsumsi makanan bergizi
- Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan benda di rumah
- Menghindari kontak dengan penderita
Bagi bayi, pemberian ASI juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Jangan Tunggu Sampai Parah
Campak adalah penyakit yang tidak boleh dianggap remeh. Meskipun sering terlihat ringan di awal, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan baik.
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala seperti demam tinggi dan ruam merah, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan meningkatkan kesadaran, melengkapi imunisasi, dan menerapkan pola hidup sehat, risiko penyebaran dan komplikasi campak dapat ditekan. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.