Kontroversi Bel Ramadan di Sekolah Picu Debat Sekularisme di Turki

Mengapa bel Ramadan ini begitu kontroversi di Turki?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 27 Maret 2026, 07:15 WIB
Ilustrasi Pergaulan Remaja Credit: pexels.com/pixabay

Liputan6.com, Ankara - Kasus sederhana di sebuah sekolah di Kocaeli berubah menjadi polemik nasional yang menyoroti ketegangan lama antara agama dan sekularisme di Turki.

Soner Akbal, seorang pekerja forklift berusia 40 tahun, awalnya hanya berniat mengantar putrinya ke sekolah. Namun, ia terkejut ketika mendengar bel sekolah diganti dengan nyanyian keagamaan Islam. Akbal pun langsung memprotes kepala sekolah dan merekam percakapan tersebut, yang kemudian ia bagikan melalui WhatsApp.

Video itu dengan cepat viral dan memicu perdebatan luas, setelah diketahui bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari instruksi Ministry of National Education Turki untuk meramaikan bulan Ramadan di sekolah. Program tersebut mencakup kunjungan ke masjid, dekorasi kelas bertema Ramadan, hingga kegiatan berbagi pengalaman buka puasa.

Langkah ini memicu reaksi keras dari kelompok pro-sekularisme yang menilai kebijakan tersebut melanggar prinsip netralitas pendidikan negara, dikutip dari laman Arab News, Jumat (27/3/2026).

Kontroversi semakin memanas setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan turut angkat bicara. Ia mempertanyakan pihak-pihak yang menolak kegiatan keagamaan di sekolah.

“Jika ada yang merasa terganggu, mereka harus bertanya apakah mereka merasa berhak berada di negara ini,” ujarnya, membela kebijakan tersebut sebagai bagian dari nilai sosial masyarakat.

Namun kritik tetap mengalir. Akbal menilai kebijakan itu berpotensi mendiskriminasi anak-anak dari keluarga non-religius di negara yang secara konstitusional menganut sekularisme.

“Saya memiliki nilai sosial-demokratis dan sekuler. Ini bisa membuat anak-anak tidak nyaman,” katanya.

Ketegangan ini mencerminkan perdebatan lebih luas tentang arah identitas negara sejak era Mustafa Kemal Ataturk, yang mendirikan republik sekuler Turki pada 1923. Pemerintahan Erdogan dan Justice and Development Party kerap dituduh mengikis prinsip tersebut dengan memperkuat peran agama dalam ruang publik.

Pemerintah sendiri bersikeras bahwa seluruh kegiatan bersifat sukarela dan tidak melanggar konstitusi.

Namun kasus ini berujung serius bagi Akbal. Pada malam hari setelah videonya viral, ia ditangkap dengan tuduhan “menghasut kebencian” dan “melanggar privasi”.

Peristiwa ini kini menjadi simbol terbaru dari tarik-menarik antara nilai sekuler dan religius di Turki—perdebatan yang tampaknya masih jauh dari selesai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya