Liputan6.com, New York City - Peluncuran HP IQ di ajang HP Imagine 2026 menandai langkah strategis HP Inc. untuk keluar dari bayang-bayang sebagai produsen perangkat keras dan bertransformasi menjadi perusahaan AI full-stack.
Dalam media briefing di New York City, Amerika Serikat (AS), SVP Design & Innovation Imran Chaudhri dan SVP HP IQ Bethany Bongiorno menegaskan HP IQ bukan sekadar produk baru, melainkan fondasi ekosistem AI masa depan HP yang akan terus berevolusi menuju sistem berbasis agen (agentic AI).
Advertisement
“HP IQ adalah fondasi. Kami akan memperluasnya untuk menghadirkan lebih banyak alur kerja berbasis agen secara bertahap melalui pembaruan rutin,” ujar Imran Chaudhri pada Selasa (24/3/2025) kepada awak media di New York City, yang turut dihadiri jurnalis Liputan6.com, Teddy Tri Setio Berty.
AI Privat Jadi Jawaban Kekhawatiran Perusahaan
Salah satu dorongan utama lahirnya HP IQ adalah kebutuhan pelanggan enterprise yang ingin memanfaatkan model bahasa besar, namun terbentur isu tata kelola data, privasi, dan keamanan.
Menurut Chaudhri, banyak perusahaan tidak dapat mengirim data sensitif mereka ke model AI publik. HP IQ hadir dengan pendekatan berbeda: menghadirkan kemampuan penalaran setara GPT langsung di perangkat (on-device), sehingga data tetap berada dalam kontrol pengguna.
Pendekatan ini diklaim memungkinkan pekerja pengetahuan meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan keamanan.
“Ini tentang memungkinkan penggunaan data secara aman, dengan penalaran mendalam di perangkat, sekaligus meningkatkan hasil kerja dan efisiensi waktu,” ia menjelaskan.
Dari Hardware ke Ekosistem
HP IQ juga menjadi simbol pergeseran besar HP, dari sekadar perusahaan perangkat keras menjadi penyedia pengalaman terintegrasi lintas perangkat.
Dengan lapisan pengalaman baru yang disebut “Visor”, HP ingin menghadirkan pengalaman konsisten saat pengguna berpindah antar perangkat dalam ekosistem mereka.
Strategi ini diperkuat dengan teknologi Nearsense, yang memungkinkan perangkat saling terhubung dan berkomunikasi, termasuk dengan perangkat di luar ekosistem HP.
Untuk itu, HP menggandeng Google dan Qualcomm guna membangun interoperabilitas lintas platform, termasuk integrasi dengan Android. Fitur awal mencakup kemampuan berbagi file cepat, namun ke depan akan diperluas ke berbagai use case lain.
“Pelanggan ingin semua perangkat mereka bekerja bersama dengan mulus. Itu yang sedang kami bangun,” ujar Chaudhri.
Strategi Full-Stack: AI dari Perangkat hingga Model
Chaudhri juga secara tegas mendefinisikan ulang posisinya di industri teknologi. Terinspirasi tren yang juga digaungkan NVIDIA sebagai perusahaan AI, HP kini menyebut dirinya sebagai perusahaan AI full-stack.
Artinya, HP tidak hanya menyediakan perangkat keras, tetapi juga model AI, orkestrasi sistem, hingga pengalaman pengguna.
HP IQ sendiri dibangun di atas model dengan sekitar 20 miliar parameter, yang dioptimalkan untuk berjalan di berbagai arsitektur chip, termasuk dari Intel, AMD, dan Qualcomm.
Ke depan, HP melihat efisiensi model—melalui teknik seperti kompresi dan kuantisasi—akan menjadi kunci, memungkinkan model yang lebih besar berjalan di perangkat dengan spesifikasi yang sama.
Ambisi Global dan Multibahasa
Meski peluncuran awal HP IQ difokuskan untuk pasar AS, HP memastikan ekspansi global, termasuk ke Indonesia, menjadi bagian dari roadmap.
Model HP IQ diklaim sudah mendukung banyak bahasa, namun implementasi regional akan dilakukan bertahap untuk memastikan pengalaman pengguna tetap optimal di tiap pasar.
HP menekankan bahwa peluncuran HP IQ baru merupakan langkah awal. Perusahaan berencana terus mengembangkan kemampuan AI berbasis agen, memperluas ekosistem lintas perangkat, serta menghadirkan inovasi baik di sisi perangkat keras maupun software.
Dengan strategi ini, HP mencoba mengambil posisi unik di tengah persaingan AI global: bukan hanya sebagai pembuat perangkat, tetapi sebagai penyedia platform kerja masa depan yang terintegrasi.
“Hari ini adalah fondasi awal. Masih banyak yang akan datang,” HP menegaskan.