Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang Iran sedang berlangsung. Ia mengklaim bahwa Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan, meskipun sebelumnya Iran membantah adanya pembicaraan tersebut.
Berbicara di Gedung Putih pada Selasa (24/3/2026) malam, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS—yang bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran pada akhir bulan lalu—sedang berkomunikasi dengan "pihak yang tepat" untuk mencapai kesepakatan. Ia menyinggung adanya "hadiah yang sangat besar" terkait "minyak dan gas" yang disebutnya telah diberikan oleh Iran.
Advertisement
Namun, di tengah pertempuran yang masih berlangsung, termasuk serangan lanjutan Iran ke Israel dan serangan di dekat fasilitas nuklir Bushehr di Iran, muncul ketidakpastian terhadap klaim Trump. Pernyataan tersebut sebelumnya telah dibantah sebagai "berita palsu" oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf pada Senin (23/3).
Pernyataan terbaru Trump bertepatan dengan laporan media yang menyebutkan bahwa Washington telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang. Saluran Channel 12 Israel dengan mengutip sejumlah sumber melaporkan bahwa rencana tersebut mencakup penghentian program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang selama konflik ini dikendalikan secara ketat oleh Iran.
Melaporkan dari Washington, DC, jurnalis Al Jazeera Teresa Bo menyebutkan bahwa rencana tersebut diduga disampaikan kepada Iran melalui Pakistan. Ia juga mencatat bahwa Trump sedang menghadapi tekanan terkait perang yang mahal dan tidak populer.
Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada Selasa menunjukkan bahwa 61 persen warga AS tidak menyetujui serangan terhadap Iran, meningkat dari 59 persen pada pekan sebelumnya. Sementara itu, tingkat persetujuan turun menjadi 35 persen dari sebelumnya 37 persen.
Kantor berita AFP melaporkan bahwa di balik layar, Kementerian Luar Negeri Iran mengakui bahwa pesan telah disampaikan oleh "negara-negara sahabat" yang menunjukkan adanya "permintaan negosiasi dari AS".
Negar Mortazavi, peneliti senior non-residen di Center for International Policy, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran ingin mengakhiri perang yang dipaksakan kepadanya dengan syaratnya sendiri.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan Iran adalah membangun daya tangkal yang cukup agar konflik serupa tidak terulang, seperti yang terjadi tahun lalu. Menurutnya, Iran tidak ingin mengalami situasi seperti Gaza, Lebanon, atau Suriah, di mana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—dengan kemungkinan dukungan AS—dapat terus melakukan serangan berulang.
Selain itu, Mortazavi menambahkan bahwa Iran menginginkan keuntungan ekonomi dari berakhirnya perang. Ia menyebut bahwa pengendalian Selat Hormuz telah memunculkan ide di Iran untuk mengenakan biaya lintasan, sebagaimana dilakukan di beberapa wilayah lain di dunia. Ia menyinggung kemungkinan tuntutan pencabutan sanksi serta reparasi untuk membangun kembali negara setelah kerusakan besar akibat serangan AS dan Israel.
Israel Tetap Lanjutkan Operasi Militer
Meski Trump tampak mencari jalan diplomatik di tengah lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi global, juru bicara militer Israel Effie Defrin, menyatakan bahwa rencana perang negaranya tidak berubah. Ia menegaskan bahwa Israel akan terus "memperdalam kerusakan dan menghilangkan ancaman eksistensial".
Di sisi lain, Amerika Serikat juga dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan eskalasi konflik. Sejumlah media menyebutkan bahwa ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 akan dikirim ke Timur Tengah, menambah sekitar 50.000 pasukan AS yang sudah berada di kawasan tersebut. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan.
Situasi di Iran dan Israel
Di Iran, menurut laporan jurnalis Al Jazeera Mohamed Vall, pernyataan Trump memicu "kebingungan dan ketidakjelasan". Organisasi energi atom Iran menyatakan bahwa serangan pada Selasa malam mengenai area di dalam kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, namun tidak menyebabkan kerusakan.
Sementara itu di Israel, serangan Iran pada Selasa melukai tujuh orang, termasuk seorang bayi. Iran terus meningkatkan intensitas serangannya, memaksa jutaan warga Israel berlindung di tempat perlindungan beberapa kali dalam sehari. Kegagalan sistem pencegat dalam beberapa serangan terbaru juga telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.