Iran Bantah Klaim Trump soal Dialog Produktif, Sebut Tak Ada Komunikasi dengan AS

Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait adanya pembicaraan antara kedua negara.

oleh Nanda Perdana PutraDiterbitkan 24 Maret 2026, 09:17 WIB
Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Liputan6.com, Jakarta - Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait adanya pembicaraan antara kedua negara. Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menyebut telah terjadi komunikasi "produktif" dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip kantor berita semi-resmi Mehr, sumber dari pihak Iran menegaskan bahwa "tidak ada dialog" antara Teheran dan Washington.

Sumber tersebut juga menilai pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi politik dan militer Amerika Serikat. Sumber tersebut mengatakan komentar Trump adalah bagian dari upayanya "untuk menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militer."

Meski demikian, sumber tersebut mengakui adanya inisiatif dari sejumlah negara di kawasan untuk meredakan ketegangan.

"Kami bukanlah pihak yang memulai perang ini, dan semua tuntutan tersebut harus diarahkan ke Washington," tambahnya, dikutip Selasa (24/3/2026), seperti dilansir dari Antara.

 

Klaim Trump dan Penundaan Serangan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Agustus 2024. (Dok. AP/Julia Nikhinson)

Sebelumnya, Trump menyatakan telah memerintahkan penundaan selama lima hari terhadap serangan militer Amerika Serikat yang menargetkan pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.

Keputusan itu, menurut Trump, diambil setelah adanya komunikasi positif dengan pihak Iran.

"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump di platform media sosialnya, Truth Social.

Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada perkembangan pembicaraan yang dinilai konstruktif.

Trump menambahkan bahwa berdasarkan "nada dan isi percakapan mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu," dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Penundaan itu, lanjutnya, bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.

 

Eskalasi Konflik Masih Berlanjut

Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik terbuka antara Israel dan Iran. Tampak dalam foto, warga melihat bangunan tempat tinggal yang rusak parah akibat serangan rudal Iran di Arad, Israel Selatan, Minggu, 22 Maret 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Pernyataan saling bertolak belakang ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.

Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta sejumlah negara seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada pasar global dan penerbangan.

Sumber: Anadolu

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya