Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kepentingan nasional Indonesia tidak akan pernah dikorbankan dalam setiap kebijakan, termasuk dalam perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS) melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Menurut Prabowo, seluruh isi perjanjian telah melalui proses kajian matang, termasuk kesepakatan penurunan tarif dari 32% menjadi 19%.
Advertisement
“Saudara harus percaya bahwa saya mengutamakan kepentingan nasional Indonesia. Jika saya menilai kepentingan nasional kita terancam oleh perjanjian apa pun, maka kita bisa meninggalkannya,” ujar Prabowo dikutip Senin (23/3/2026).
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia mendapatkan perlakuan khusus dalam kesepakatan tersebut dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Prabowo menjelaskan bahwa pemerintah tetap memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian jika terdapat poin dalam perjanjian yang dinilai merugikan Indonesia.
“Dalam perjanjian kemarin, kita sepakat bahwa jika ada hal-hal yang belum berkenan bagi kedua pihak atau bertentangan dengan kepentingan kita, maka akan dibuat klausul penyesuaian,” jelasnya.
Menurutnya, klausul tersebut menjadi keunggulan tersendiri karena memberikan fleksibilitas bagi Indonesia dalam menjaga kepentingan nasional.
“Setahu saya, klausul seperti ini tidak ada dalam perjanjian dengan negara lain,” tambah Prabowo.
Keuntungan Indonesia: 1.819 Komoditas Dapat Tarif 0 Persen
Dengan adanya mekanisme ini, pemerintah memiliki ruang untuk terus mengevaluasi implementasi perjanjian dan memastikan manfaatnya tetap optimal bagi perekonomian nasional.
Selain fleksibilitas dalam perjanjian, Prabowo menilai Indonesia juga memperoleh keuntungan signifikan, khususnya dalam akses pasar.
Sebanyak 1.819 komoditas strategis nasional—termasuk kopi dan minyak sawit—mendapatkan tarif nol persen dalam kesepakatan tersebut.
“Dalam perjanjian ini, ada 1.819 komoditas kita yang tarifnya nol persen. Tentu ini menguntungkan,” ujarnya.
Menanggapi kemungkinan Indonesia mengikuti langkah Malaysia yang membatalkan perjanjian dagang dengan AS, Prabowo menegaskan pemerintah akan tetap bersikap rasional.
“Kita pasti mencari yang menguntungkan, bukan sebaliknya,” pungkasnya.
Pemerintah optimistis, kebijakan ini dapat memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global sekaligus mendorong pertumbuhan ekspor ke depan.