Liputan6.com, Addis Ababa- Peristiwa berdarah pada 21 Maret 1960 di Sharpeville menjadi salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah apartheid di Afrika Selatan. Puluhan warga kulit hitam tewas setelah polisi melepaskan tembakan ke arah demonstran yang menggelar aksi damai menentang kebijakan diskriminatif pemerintah.
Sedikitnya lebih dari 50 orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, sementara puluhan lainnya mengalami luka tembak dan dilarikan ke Rumah Sakit Baragwanath di dekat Johannesburg, dikutip dari laman BBC, Sabtu (21/3/2026).
Advertisement
Menurut saksi mata, suasana berubah menjadi kepanikan ketika ratusan aparat bersenjata mulai menembaki kerumunan sekitar 5.000 orang di luar kantor pemerintahan setempat. Pria, wanita, hingga anak-anak berlarian menyelamatkan diri saat tembakan dilepaskan secara acak.
Hingga kini, alasan pasti polisi membuka tembakan masih menjadi perdebatan. Sejumlah laporan menyebut adanya aksi lempar batu dari sebagian demonstran, namun hal itu tidak menjelaskan penggunaan kekuatan mematikan terhadap massa yang sebagian besar tidak bersenjata.
Aksi tersebut merupakan bagian dari kampanye tanpa kekerasan yang digagas oleh Pan Africanist Congress. Ribuan warga berkumpul untuk memprotes undang-undang “pass laws”, aturan yang mewajibkan warga kulit hitam membawa dokumen identitas khusus setiap saat.
Kebijakan itu dinilai sebagai alat utama rezim apartheid untuk membatasi pergerakan warga kulit hitam di wilayah yang didominasi kulit putih. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat berujung penangkapan dan penahanan hingga 30 hari.
Pemimpin PAC saat itu, Robert Sobukwe, menyerukan aksi damai dengan cara warga meninggalkan dokumen mereka di rumah dan menyerahkan diri ke kantor polisi. Strategi ini diharapkan membanjiri sistem hukum dan memaksa pemerintah mencabut aturan tersebut.
Namun, hanya dalam hitungan jam, aksi damai berubah menjadi tragedi. Polisi dilaporkan sempat mencoba membubarkan massa dengan manuver pesawat rendah sebelum akhirnya melepaskan tembakan.
Komandan polisi setempat, D H Pienaar, menyatakan tindakan tersebut sebagai respons terhadap situasi yang dianggap mengancam. Pernyataan itu menuai kecaman luas, baik di dalam maupun luar negeri.
Tragedi Sharpeville kemudian memicu gelombang protes internasional dan menjadi simbol perlawanan global terhadap apartheid. Peristiwa ini juga mendorong tekanan dunia terhadap pemerintah Afrika Selatan, yang pada akhirnya berkontribusi pada runtuhnya sistem segregasi rasial tersebut beberapa dekade kemudian.