Wamen ESDM Negosiasi Impor Minyak dari Luar Timur Tengah, Buka Peluang bagi Semua Negara

Wamen ESDM bersama pihaknya melakukan negosiasi impor energi dari luar Timur Tengah dalam upaya pertahanan energi nasional di tengah konflik AS-Israel dan Iran.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 18 Maret 2026, 13:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kenaikan harga minyak dunia tak terhindarkan setelah pecahnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Tampak dalam foto, seorang karyawan mengisi tangki bahan bakar mobil di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta, Selasa 3 Maret 2026. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

Liputan6.com, Jakarta - Wamen ESDM atau Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan, rencana pengalihan impor energi dari luar kawasan Timur Tengah masih dalam tahap negosiasi.

Pernyataan tersebut dikatakan usai meninjau Fuel Terminal Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar) pada Senin (16/3/2026). 

Yuliot menyebut salah satu negara yang sedang dijajaki adalah Amerika Serikat (AS) melalui komunikasi yang sudah terbangun dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS.

"Kita akan menambah impor dari Amerika. Dari sana kita bisa melihat operator-operator minyak besar seperti Exxon Mobil dan Chevron yang beroperasi secara global. Kita berharap mereka bisa memasok kebutuhan BBM kita, baik dalam bentuk crude atau minyak mentah maupun BBM jadi," ujar Yuliot, Selasa 17 Maret 2026, seperti dilansir Antara.

Meski demikian, Yuliot menyampaikan rencana impor energi tersebut masih pada tahap negosiasi dan belum ada kesepakatan, baik dengan AS maupun calon negara pemasok lainnya.

"Belum. Saat ini masih tahap penyelesaian negosiasi, termasuk negara suplainya dari mana," ucap dia.

Yuliot menambahkan, impor dari luar kawasan Timur Tengah ini menjadi opsi pemerintah dalam menjaga pasokan energi setelah suplai global terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Konflik antara AS-Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah ini membuat Indonesia mulai mencari alternatif sumber impor minyak di luar kawasan tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS dan negara lain demi menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Ketergantungan Impor BBM dan Risiko Geopolitik

Petugas mengisi bahan bakar jenis Biosolar pada kendaraan di SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (17/2/2021). Pemerintah terus berupaya menekan impor bahan bakar minyak, di antaranya melalui program mandatori biodiesel yang ditingkatkan menjadi B30 sejak awal tahun lalu. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Yuliot menuturkan, sekitar 20 persen kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri dipasok dari Arab Saudi melalui jalur Selat Hormuz, yang saat ini masih terpengaruh konflik antara AS-Israel dan Iran.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga menyampaikan bahwa Indonesia mengimpor crude atau minyak mentah dari Timur Tengah dengan porsi 20-25 persen dari total impor, sementara sisanya berasal dari Angola, Amerika Serikat, dan Brasil.

Adapun BBM jadi diimpor dari kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura.

Kondisi geopolitik di kawasan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi nasional, terutama jika terjadi gangguan distribusi atau kenaikan biaya logistik.

Lebih lanjut, pemerintah terus memantau perkembangan situasi global dan menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi, termasuk melalui diversifikasi sumber impor dan penguatan cadangan energi nasional serta optimalisasi sumber daya dalam negeri.

Buka Peluang Impor dari Semua Negara

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Menanggapi hal tersebut, berdasarkan informasi terbaru, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia membuka peluang impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik kawasan Timur Tengah.

Menurut Bahlil, pemerintah tidak membatasi sumber impor hanya pada satu negara.

"Semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting," kata dia.

Ia menambahkan kemungkinan impor minyak dari Rusia dilakukan setelah AS membuka kembali akses pembelian minyak dari negara tersebut yang sebelumnya dikenakan sanksi.

Selain Rusia, Indonesia juga menjajaki kerja sama dengan Brunei Darussalam. Dalam pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri Brunei, pemerintah membahas peluang transfer teknologi serta kerja sama energi.

Bahlil menambahkan Brunei memiliki potensi pasokan gas C3 dan C4 yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku LPG.

“Kita bisa ambil punya mereka juga atau kita bangun industri LPG di sana untuk objekannya di Indonesia,” pungkasnya.

Infografis Kronologi Perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya