Robot dan Drone Gantikan Infanteri di Medan Perang Ukraina

Serangan drone hingga kini masih terjadi dalam perang Ukraina-Rusia.

Oleh DW.comDiterbitkan 17 Maret 2026, 11:30 WIB
Drone Shahed buatan Iran yang diluncurkan Rusia terlihat melintas di langit beberapa detik sebelum menghantam bangunan di Kyiv, Ukraina, pada 17 Oktober 2022. (Dok. AP/Efrem Lukatsky, Arsip)

, Kyiv - Jagung di ladang tumbuh setinggi beberapa meter, dan sudah lama tidak dipanen. Desa-desa hancur dan kosong tanpa penghuni. Di pinggir jalan berdiri bangkai mobil yang hangus terbakar. Tidak tampak pertempuran aktif di kawasan Kharkiv. Wilayah dekat perbatasan Rusia itu terasa horor. Gambar-gambar dari drone pengintai dan kamera video statis ini terus-menerus ditransmisikan ke monitor di sebuah pos komando Ukraina.

Di sini, Brigade "Chartija” dari Garda Nasional memantau wilayah tersebut. Pos mereka berada beberapa kilometer dari garis depan, di ruang bawah tanah sebuah bangunan yang ditinggalkan di utara Kharkiv.

Komandan batalionnya menggunakan nama sandi "Donner”. Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari layar monitor, bahkan sedetik pun. Cuaca cerah dan langit tanpa awan, tetapi pengintaian harus ekstra waspada, dikiutip dari laman DW Indonesia, Selasa (17/3/2026).

"Jika musuh berhasil mendekati posisi kami, berarti kami telah melewatkan sesuatu di suatu tempat,” papar Komandan "Donner” kepada DW.

Menurutnya, bunker dan parit perlindungan klasik sudah tidak lagi memberikan perlindungan dalam perang ini. Karena itu, "seluruh infanteri, baik Ukraina maupun musuhnya, menggali terowongan bawah tanah agar tidak dapat dijangkau oleh drone penyerang.”

Menemukan jejak musuh, ungkap "Donner”, secara harfiah berarti "membaca tanda-tanda di tanah dari langit.” Misalnya: Sampah baru di jalan desa yang ditinggalkan, tanah kebun yang baru digali, atau tumpukan kayu kecil di tengah halaman. Semua itu merupakan petunjuk jelas keberadaan musuh.

Pilot Oleksij mengarahkan drone ke salah satu rumah dan menemukan sesuatu yang mencurigakan di dekat sebuah sumur. "Kelihatannya seperti jejak hewan, tapi secara teori bisa saja seseorang mengambil air. Nanti harus kami cek lagi,” paparnya.

Kemudian ia memeriksa jalan di dekatnya. Tak lama sebelumnya, unit pengintai melihat sebuah kendaraan sipil berhenti beberapa menit di dekat himpunan pohon kecil.

"Musuh terus mengirim berbagai barang kepada infanterinya,” jelas Oleksij kepada DW. Begitu brigadenya menemukan tempat persembunyian Rusia, drone tempur segera dikirim ke sana.

"Rusia melakukan hal yang sama,” tambah "Donner”. "Siapa yang memiliki tempat persembunyian terbaik dan keunggulan dalam penggunaan drone, dialah yang mendominasi.”

 

Pasokan Melalui Robot Darat

Para petugas penyelamat Ukraina berdiri di samping sebuah rumah yang rusak parah setelah serangan udara di Sofiivska Borshchagivka, wilayah Kyiv pada Minggu 22 Februari 2026. Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah pinggiran kota Kyiv. (Henry NICHOLLS/AFP)

Tempat persembunyian bawah tanah milik sendiri harus tetap tidak terdeteksi selama mungkin. Karena itu, pasukan Ukraina kini semakin jarang menggunakan mobil untuk mengirim logistik, membersihkan ranjau, atau mengevakuasi korban luka. Sebagai gantinya, mereka semakin sering menggunakan kendaraan darat tanpa awak. Berbagai sistem robot ini dapat mengangkut muatan antara 200 hingga 700 kilogram.

Musuh secara aktif "memburu” robot-robot darat Ukraina, jelas seorang komandan brigade lain dengan nama sandi "Scrooge” kepada DW.

Setiap malam, brigadenya mengirim robot tanpa awak yang membawa logistik ke posisi mereka. Reporter DW menemuinya tepat tengah malam di tengah stepa, di tepi sebuah desa di sektor front Kupjansk di wilayah Kharkiv.

Di sana, quadcopter, perlengkapan tempur, makanan, dan bahan bakar diisi dengan cepat ke berbagai robot. Semua harus dilakukan secepat mungkin, karena hanya lima kilometer dari sana terlihat drone tempur musuh yang berputar di udara.

Sebuah "Mimpi” yang hancurRobot darat pertama yang dikirim memiliki nama sandi "Mimpi”. Menurut rencana, muatan yang dibawanya akan tiba dalam dua jam. Seorang pilot mengendalikannya dari jarak 40 kilometer.

"Mimpi” juga dikawal oleh drone pengintai yang dikendalikan dari pos kontrol lain yang berjarak sekitar 20 kilometer.

Namun di tengah perjalanan, "Mimpi” tiba-tiba harus berhenti karena muncul drone tempur musuh. Sekitar satu jam kemudian, robot itu diserang. Dari pos kontrol kompi terlihat muatannya terbakar.

Dengan nada hormat, "Scrooge” bercerita bahwa "Mimpi” adalah "pejuang berpengalaman.” Ia telah mengalami dua kali "cedera”, dan para mekanik "menyembuhkannya” lagi.

Pengiriman lainnya berhasil, sehingga kehilangan "Mimpi” tidak terlalu parah. "Itu hanya sebuah mesin,” tutur "Scrooge”: "Yang penting tidak ada manusia yang tewas.”

 

Robot dan Drone Menggantikan Infanteri

Peringatan serangan udara terus diaktifkan oleh pemerintah setempat mengingat situasi di lokasi masih sangat dinamis. Tampak sebuah foto yang menunjukkan kondisi bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan pesawat tak berawak Rusia di Zaporizhzhia pada 2 Januari 2026, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. (Darya NAZAROVA/AFP)

Sang komandan tersebut yakin bahwa perkembangan robot darat Ukraina berlangsung lebih cepat dibandingkan pihak lawan.

Ia menunjukkan kepada reporter DW sebuah robot tempur siap pakai di bengkel perusahaannya. Di atasnya terpasang senapan mesin berat Browning buatan Amerika Serikat, yang mampu menghancurkan pasukan maupun peralatan musuh. Robot ini dapat tetap siaga dengan baterai untuk waktu yang lama.

"Jika sebuah robot dengan senapan mesin menyerang musuh dari jarak satu setengah kilometer, itu sudah menjadi tekanan psikologis besar bagi mereka yang diserang,” jelas mekanik kompi bernama Jurij.

"Scrooge” adalah tentara profesional dari keluarga militer. Menurutnya, hanya masalah waktu sebelum teknologi sepenuhnya menggantikan infanteri di medan perang.

"Pada akhirnya, hanya robot dan drone yang akan berada di medan tempur. Orang-orang akan duduk 100 kilometer jauhnya dan mengendalikannya,” paparnya kepada reporter DW. Ia menambahkan: "Semua operasi yang Anda lihat di sini malam ini sebenarnya sudah bisa dikendalikan dari mana saja di dunia.”

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya