Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) atau harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menembus USD 100 per barel pada Minggu malam, 15 Maret 2026 waktu setempat. Kenaikan harga minyak WTI seiring pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap fasilitas ekspor minyak Iran, anggota OPEC di Pulau Khang.
Mengutip CNBC, Senin, (16/3/2026), harga minyak mentah AS naik 2,64% menjadi USD 101,32 per barel pada pukul 18.15 ET. Harga minyak Brent bertambah 2,94% menjadi USD 106.17 per barel.
Advertisement
Presiden Donald Trump memerintahkan serangan pada Jumat terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg. Trump mengatakan serangan tersebut tidak merusak infrastruktur minyak. Namun, ia memperingatkan AS akan mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas minyak mentah di pulau itu jika Iran terus menyerang kapal tanker di Selat Hormuz yang penting.
Gedung Putih berencana untuk mengumumkan sesegera mungkin minggu ini beberapa negara telah setuju untuk membantu mengawal kapal tanker minyak melalui Selat tersebut, kata para pejabat AS kepada The Wall Street Journal. Namun, mereka masih membahas apakah operasi tersebut akan dimulai sebelum atau setelah perang berakhir, kata para pejabat kepada Journal.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengulangi ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur minyak di pulau itu. Sekitar 90% ekspor minyak Iran dikirim dari sana, menurut JPMorgan. Iran memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari pada Februari, menurut data OPEC.
"Dia sengaja hanya menyerang infrastruktur militer, untuk saat ini,” kata Waltz kepada CNN dalam sebuah wawancara pada hari Minggu.
"Dan saya yakin dia akan mempertahankan opsi itu jika dia ingin menghancurkan infrastruktur energi mereka.”
Serangan AS
Sementara itu, Head of Global Commodity Strategy JPMorgan, Natasha Kaneva menuturkan, serangan AS di Pulau Kharg dan ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur minyak Iran menandai eskalasi besar dalam perang.
Serangan langsung terhadap terminal ekspor Iran di pulau itu akan segera menghentikan sebagian besar ekspor minyak mentahnya sebesar 1,5 juta barel per hari, kata Kaneva.
“Hal ini kemungkinan akan memicu "pembalasan berat" oleh Iran "di Selat Hormuz atau terhadap infrastruktur energi regional," ujar dia.
Serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia pada dasarnya telah menghentikan lalu lintas melalui Selat tersebut, jalur perdagangan terpenting untuk pasar minyak mentah global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur air sempit ini sebelum perang.
Penutupan selat, yang menghubungkan Teluk dengan pasar dunia, telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Harga minyak telah naik lebih dari 40% sejak AS dan Israel menyerang Iran tiga minggu lalu. Harga minyak Brent ditutup di atas USD 100 untuk pertama kalinya dalam empat tahun pekan lalu.
Harga Minyak Masih Betah Naik
Harga terus naik meskipun lebih dari 30 negara memutuskan untuk melepaskan 400 juta barel minyak yang disimpan untuk mengatasi gangguan pasokan. Ini adalah tindakan terbesar dalam sejarah. AS akan melepaskan 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategisnya sebagai bagian dari upaya tersebut.
Badan Energi Internasional yang berbasis di Paris, yang mengoordinasikan upaya tersebut, mengatakan pada Minggu negara-negara Asia akan segera mulai melepaskan pasokan minyak darurat. Negara-negara di Amerika dan Eropa akan mulai melepaskan cadangan minyak mereka pada akhir Maret.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Minggu kalau tidak ada jaminan harga minyak akan turun dalam beberapa minggu mendatang.
“Tidak ada jaminan sama sekali dalam perang,” kata Wright kepada ABC News dalam sebuah wawancara.
“Saya dapat menjamin situasinya akan jauh lebih buruk tanpa operasi militer ini untuk melumpuhkan rezim Iran.”