Terhasut Akun TikTok, Tujuh WN China dan Uzbekistan Berangkat ke Australia secara Ilegal

Polisi menemukan satu unit kapal tanpa nama di pesisir laut Desa Inaoe yang diduga akan digunakan untuk menyelundup ke Australia.

oleh Ola KedaDiterbitkan 15 Maret 2026, 19:39 WIB
Tujuh WNA ilegal diamankan di NTT

Liputan6.com, Jakarta - Polisi mengungkap kasus penyelundupan warga negara (WN) asal China dan Uzbekistan di Pantai Masidae, Desa Inaoe, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketujuh WN tersebut rencananya dibawa ke Australia.

Kapolres Rote Ndao AKBP Mardiono mengatakan penyelundupan ini dilaporkan setelah warga menemukan para imigran gelap ini di pesisir Pantai Masidae. Para imigran gelap ini pun telah mereka serahkan ke Kantor Imigrasi i Kelas I TPI Kupang, Jumat (13/3/2026).

“Ada tujuh WNA diduga imigran gelap kita amankan di Pantai Masidae, Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan. Mereka mengaku terhasut dari akun Tiktok hingga membayar ratusan dolar," kata Mardiono, Minggu (15/3/2026).

Polisi menemukan satu unit kapal tanpa nama di pesisir laut Desa Inaoe yang diduga akan digunakan untuk menyelundup ke Australia.

Para imigran gelap ini terdiri dari empat warga China yakni Hui Jie (40), Jiang Bo (58), Chen Yong (36) dan Dia Guozhong (51), serta tiga warga Uzbekistan yakni Kasimov (54), Sultanmoradov (22) dan Shodiev (24).

Chen Yong mengaku tiba di Jakarta pada 8 Januari 2026 dan menginap selama 23 hari di sebuah hotel, lalu pergi ke Kendari, Sulawesi Tenggara, dan tinggal sekitar satu minggu sejak 3 Februari 2026.

Dia mengaku ada warga Indonesia yang menyelundupkannya. Kemudian di 11 Februari 2026 tengah malam, mereka diberangkatkan dengan kapal menuju Australia selama delapan hari namun ditangkap otoritas perbatasan Australia. Mereka kemudian ditolak kembali ke wilayah Indonesia hingga mereka terdampar di wilayah Rote Ndao.

Komunikasi Via TikTok

Dalam pengakuan mereka, ada akun TikTok yang menawarkan perjalanan ke Australia untuk bekerja. Namun mereka sudah tidak diingat lagi nama akun TikTok tersebut.

Shodiev mengaku tiba di Jakarta dan melalui rute yang sama untuk ke Australia. Perjalanan itu dia lakukan setelah membayar sebesar USD 400 per orang kepada pengurus yang diduga jaringan penyelundupan manusia.

Dia juga mengaku sempat melihat salah satu awak kapal melarikan diri sambil membawa telepon genggam sebelum kapal mereka tiba di perairan Rote Ndao.

Sebelumnya mereka menyebut ada empat warga Indonesia yang tidak mereka kenali kabur ke hutan begitu mereka tiba di Rote.

Polisi Buru Pelaku Penyelundupan

Mardiono menyebut tim gabungan Polres Rote Ndao dan Polsek Rote Selatan masih mencari keempat WNI yang diduga merupakan pelaku penyelundupan manusia (people smuggling).

"Personel kami melakukan pencarian di lapangan dan diharapkan peran serta masyarakat untuk mengungkap para terduga pelaku smuggler,” ucap Mardiono.

Polisi juga berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk pihak Imigrasi dan TNI AL, untuk memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan serta mengungkap kemungkinan adanya jaringan penyelundupan manusia internasional.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya