BEI Suspensi Saham ALKA Hari Ini 13 Maret 2026

Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) dalam rangka cooling down.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 Maret 2026, 15:23 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau suspensi saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) pada Jumat, 13 Maret 2026. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau suspensi saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) pada Jumat, 13 Maret 2026. Kebijakan ini diambil menyusul terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham perseroan dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari A., mengatakan langkah penghentian sementara atau trading halt tersebut dilakukan sebagai bentuk perlindungan bagi investor serta untuk memberikan ruang bagi pelaku pasar dalam mempertimbangkan keputusan investasinya secara lebih matang.

"Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), dalam rangka cooling down sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) pada tanggal 13 Maret 2026,” tulis Pande dikutip dari Keterbukaan Informasi BEI, Jumat (13/3/2026).

BEI menjelaskan, penghentian sementara perdagangan saham ALKA dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Langkah ini bertujuan memberikan waktu yang cukup bagi investor untuk mencermati informasi yang tersedia sebelum melakukan transaksi lebih lanjut pada saham perusahaan tersebut.

Menurut Pande Made, mekanisme cooling down merupakan bagian dari pengawasan bursa terhadap aktivitas perdagangan yang mengalami pergerakan harga tidak biasa. Dengan adanya jeda perdagangan, investor diharapkan dapat mengevaluasi kondisi fundamental serta perkembangan informasi terkait emiten.

Investor Diminta Cermati Keterbukaan Informasi

BEI juga mengimbau seluruh pihak yang berkepentingan, khususnya investor, untuk terus memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan.

Transparansi informasi dinilai penting agar investor dapat memahami kondisi dan prospek perusahaan secara lebih jelas sebelum mengambil keputusan transaksi di pasar modal.

"Para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan,” pungkasnya.

 

IHSG Bisa Tembus 10.000 pada 2026? Begini Kata BEI

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) optimis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus mengalami penguatan di tengah ketidakpastian global dalam jangka panjang.

Divisi Riset BEI, Anita Kesia Zonebia, menegaskan bahwa pihak bursa tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan angka proyeksi resmi terkait target IHSG.

Namun demikian, BEI tetap memandang prospek pasar saham domestik secara positif seiring dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih cukup kuat.

Anita menjelaskan bahwa BEI tidak pernah menerbitkan proyeksi angka IHSG, termasuk target apakah indeks dapat mencapai level tertentu seperti 10.000 pada tahun 2026. Hal tersebut merupakan bentuk kehati-hatian sekaligus bagian dari aturan yang berlaku bagi otoritas bursa.

"Apakah BEI optimis IHSG dapat tetap mencapai level 10 ribu? Oke, disclaimer dulu, kalau kita sebenarnya nggak ngeluarin itu kayak yang namanya angka proyeksi. Jadi, Bursa Efek Indonesia menargetkan proyeksi IHSG sebesar segini, menghitung di akhir tahun akan sebesar segini," kata Anita dalam Edukasi Wartawan, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, BEI memang tidak diperkenankan mengeluarkan proyeksi angka spesifik mengenai pergerakan IHSG di masa depan. Oleh karena itu, pihak bursa tidak pernah menyampaikan target indeks tertentu kepada publik maupun pelaku pasar.

"Jadi, Bursa Efek Indonesia menargetkan proyeksi IHSG sebesar segini, menghitung di akhir tahun akan sebesar segini. Kita nggak ngeluarin itu dan nggak boleh, gitu ya. Kita nggak boleh. Tapi, kalau dibilang optimis, ya of course kita harus optimis," ujarnya.

Meski demikian, Anita menyatakan bahwa optimisme tetap menjadi sikap yang harus dimiliki oleh BEI sebagai pengelola pasar modal. Ia menilai optimisme penting untuk melihat potensi pertumbuhan pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.

 

 

Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Solid

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Anita menilai bahwa potensi penguatan IHSG ke depan tetap terbuka, terutama karena ditopang oleh fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid. Stabilitas ekonomi domestik menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kepercayaan investor terhadap pasar saham nasional.

“Jadi IHSG itu, menurut saya pribadi, at least, itu berpotensi untuk makin naik lagi ke depannya, kayak gitu ya. Didukung oleh apa? Tadi fundamental ekonomi kita yang relatif solid, kemudian company kita, listed companies kita juga sebetulnya masih oke," ujarnya.

Selain itu, kinerja perusahaan tercatat di BEI juga dinilai masih cukup baik. Banyak emiten yang mampu menjaga performa bisnisnya di tengah berbagai tantangan global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, kondisi tersebut memberikan fondasi yang cukup kuat bagi pasar saham Indonesia untuk terus berkembang. Dengan kinerja perusahaan yang stabil, peluang pertumbuhan nilai saham di masa mendatang tetap terbuka.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya