Energy Shift Institue: Kendaraan Listrik Lebih Efisien dari Biodiesel dan Bioetanol

Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menyebut kendaraan listrik lebih hemat dan tidak membebani subsidi negara.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 14 Maret 2026, 11:05 WIB
BYD juga Pamer Teknologi dan Ekosistem Kendaraan Listrik (ist)

Liputan6.com, Jakarta - Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna menilai, penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dapat menjadi opsi yang lebih hemat untuk menekan ketergantungan Indonesia pada minyak bumi dibandingkan dengan pemanfaatan biodiesel maupun bioetanol.

"Kendaraan listrik lebih irit dalam biaya operasi dan tidak menjadi beban besar bagi subsidi negara," kata Putra, melansir Antara, Rabu 11 Maret 2026.

Menurut Putra, elektrifikasi menjadi arah utama dalam pengembangan transportasi ke depan. Hal ini juga menjadi salah satu alasan China sangat agresif mengembangkan industri kendaraan listriknya, mengingat sekitar 70 persen kebutuhan minyak negara tersebut masih bergantung pada impor.

"Saat ini, Indonesia menggantikan setidaknya 3 ribu barel minyak per hari dengan kendaraan listrik," ucapnya.

Ia menekankan, ketahanan energi itu sangat penting, namun yang harus menjadi perhatian dari pemerintah adalah perbandingan biaya antara opsi yang telah ada.

"Apabila perbandingan harga tidak dihitung dengan jelas, maka terdapat risiko Indonesia terjebak di dalam ekonomi yang berbiaya tinggi (high cost economy). Risiko tersebut dapat menjadi beban bagi masyarakat Indonesia dan mengurangi daya saingnya di pasar  global," kata Putra.

Dengan itu, lanjut dia, meskipun biodiesel menggantikan setidaknya 270 ribu barel minyak per hari, ia menilai industri kendaraan listrik perlu lebih didorong lagi. Putra menambahkan, biodiesel bergantung kepada topangan subsidi berlipat, karena harganya yang lebih mahal daripada diesel biasa.

"Subsidi tambahan biodiesel sudah melejit menjadi sekitar Rp35–40 triliun dan akan naik terus bila pemerintah mendorong terus," terang Putra.

Elektrifikasi Transportasi Dinilai jadi Arah Utama Pengembangan Transportasi ke Depan

Petugas mengisi bahan bakar jenis Biosolar pada kendaraan di SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (17/2/2021). Pemerintah terus berupaya menekan impor bahan bakar minyak, di antaranya melalui program mandatori biodiesel yang ditingkatkan menjadi B30 sejak awal tahun lalu. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sejalan dengan itu, menurut Putra, bioetanol bisa 20 persen lebih mahal daripada bensin. Tak hanya itu, bioetanol tidak memiliki industri besar seperti sawit utuk menyubsidinya.

"Sehingga belum jelas pos anggaran dari mana yang akan pemerintah gunakan, terutama dengan APBN yang tertekan," kata Putra.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Dayaa Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan akan memberikan intensif untuk program konversi motor bensin menjadi motor listrik, sebagaimana yang sebelumnya telah dilakukan oleh Kementerian ESDM.

Terkait target maupun jumlah intensifnya akan dibahas dalam rapat Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi.

Bahlil mengatakan, konversi motor bensin menjadi motor listrik adalah salah satu strategi pemerintah dalam mengurangi polusi dan mellakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan.

Contoh Infografis Hemat Energi (Hemat Energi di Rumah). Sumber : www.kominfo.go.id/

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya