Liputan6.com, Jakarta - Warga negara Indonesia (WNI) dari Iran yang kembali ke Indonesia dengan selamat, menceritakan suasana mencekam selama di ibu kota Iran, Teheran, selama serangan Amerika dan Israel di wilayah tersebut.
Adalah Ahmad Hukam, WNI yang baru saja setahun menempuh pendidikan Sarjana jurusan Sejarah Peradaban Islam di Universitas Ahlul Bait International University, Teheran, menceritakan dengan rinci selama dirinya di sana.
Advertisement
Dia mengaku, terakhir berkuliah itu pada 1 Ramadan dan tiba-tiba saja serangan memanas pada 2 Ramadan, hingga akhirnya perkuliahan di salah satu kampus terbaik di Iran itu harus diliburkan.
"Kondisi terakhir itu sudah mulai libur sampai mungkin waktunya tidak bisa ditentukan, karena berita terakhir yang saya ketahui itu, ada serangan lanjutan dan serangannya masih dinamis, masih fleksibel," ujar Hukam saat ditemui wartawan di Terminal 3 Kedatangan Internasional, Bandara Soekarno Hatta, Selasa (10/3/2026).
Lalu, datanglah tawaran evakuasi dari KBRI. Hukam menyetujui untuk bisa pulang ke Banyumas, berkumpulah Hukam dan puluhan WNI lainnya yang masuk dalam gelombang pertama repatriasi di Teheran.
Sebelum pemulangan tersebut, Hukam mengaku mendengar beberapa kali serangan. Lebih dari lima roket bom melayang di atas titik kumpul atau di KBRI, hingga akhirnya jatuh hanya berjarak 1 hingga 2 kilometer saja dari KBRI.
"Dari sejak awal tuh kami kumpul sudah ada serangan di dekat KBRI itu, mungkin 1 kilo. Hingga akhirnya kami berhasil dievakuasi, dan semua berjalan dengan lancar dan alhamdulillah sampai hari ini kita bertemu kembali," katanya.
Hingga kini, proses pembelajaran di kampusnya belum kembali berjalan, baik secara offline maupun online. Hukam pun memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan berkumpul bersama keluarganya di Banyumas sembari menunggu situasi aman kembali di Iran.
"Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi kapan pembelajaran akan kembali dilakukan, tapi saya terus berkomunikasi dengan ketua perhimpunan mahasiswa Iran dan update perkembangan," katanya.
Tidak Ada Panic Buying
Hukam juga mengatakan, sejak adanya serangan di Iran, dirinya tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan-bahan pokok untuk bisa makan sehari-hari. Sebab, bahan pokok seperti beras, minyak, telur dan lain sebagainya, masih bisa didapatkan dari warung klontong milik warga Iran.
"Tempat tinggal kami dekat dengan klontong, mereka masih buka, welcome juga dengan warga negara asing. Memang ada kenaikan (harga), sekarang sekitar 160-170 riyal harganya, tapi stok masih mudah didapatkan, tidak ada kepanikan," katanya.
Menurutnya, tak ada panic buying, tak ada penimbunan stok bahan pokok, seluruhnya membantu sesama dan memudahkan WNA yang masih bertahan di Teheran.
"Mereka (warga Iran) baik-baik semua ke warga asing, bahkan tidak ada dipersulit atau dibedakan, semua kebutuhan pokok masih bisa dibeli bebas," lanjutnya.
Dia juga mengatakan, berdasarkan pandangan matanya sebagai warga negara asing di negara yang tengah mendapat serangan, warga Iran terlihat tegar dan kuat juga berkegiatan seperti biasanya. Tak ada kepanikan berlebih, jalan-jalan umum pun masih terdapat lalu lalang mobil-mobil seperti biasanya.
Juga tidak ada kemacetan di perbatasan bahkan tak ada antrean warga Iran yang ingin keluar dari Teheran untuk mengungsi ke negara lain.
"Mereka malah masih berkumpul untuk mengenang Ali Khamenei, jadi memang seperti untuk menunjukkan kekuatan rakyat Iran," jelasnya.
Hanya saja, akses komunikasi dari dan ke luar Iran masih sangat dibatasi oleh Pemerintah Iran. Sehingga, dia cukup kesulitan menghubungi keluarganya di Banyumas.
"Meski pakai VPN, misalnya WhatsApp hari ini bisa besok baru terkirim, karena memang dibatasi,"ujarnya.
Meski begitu, Hukam mengaku, dirinya masih memiliki keinginan untuk kembali ke Iran meneruskan perkuliahan, bilamana keadaan di negara tersebut sudah kembali kondusif.