12 Amalan Utama di Pagi Hari Idul Fitri, Merayakan Kemenangan sesuai Sunnah

Amalan utama di pagi hari Idul Fitri menjadi bentuk syukur dan kegembiraan datangnya hari kemenangan, sekaligus awal uji konsistensi ibadah setelah Ramadhan

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 20 Maret 2026, 04:57 WIB
Umat muslim mengumandangkan takbir dan memukul bedug saat malam takbiran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (4/6/2019). Umat muslim akan melaksanakan salat Idul Fitri 1440 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Fajar Idul Fitri menyingsing menjadi kesempatan untuk menyempurnakan ibadah sepanjang Ramadhan. Mengawali hari dengan langkah tepat sesuai tuntunan syariat membuat seluruh kegembiraan Hari Fitri bernilai pahala di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan mengetahui amalan utama di pagi hari Idul Fitri, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

Amalan-amalan ini berfungsi sebagai syiar Islam yang mempertegas identitas seorang muslim yang taat sekaligus bahagia. Merujuk ebook Panduan Amalan Syawal Sepanjang Aidilfitri, Qur'an Pro Academy, terdapat berbagai amalan sunnah yang dianjurkan pada pagi hari Idul Fitri. Di antaranya adalah bertakbir, mandi sunah dan mengenakan pakaian terbaik. Selain itu, masih terdapat berbagai amalan utama lainnya, yang terkadang justru terlewatkan.

Pagi Idul Fitri pun menjadi ujian awal menjaga konsistensi ibadah yang telah dibangun sepanjang Ramadhan, sekaligus wujud nyata dari kembalinya kita kepada fitrah yang suci. Simak amalan-amalan lengkap panduan praksisnya.

1. Menghidupkan Malam dengan Takbir dan Ibadah

Meskipun fokus artikel ini adalah amalan pagi hari, perlu dipahami bahwa kesucian pagi Idul Fitri dimulai sejak malam harinya. Malam 1 Syawal adalah malam yang penuh kemuliaan dan dianjurkan untuk dihidupkan dengan berbagai ibadah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَيْ الْعِيدِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

"Barangsiapa menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati-hati manusia." (HR. Al-Daruquthni)

Para ulama menegaskan bahwa meskipun hadits ini tergolong lemah (dhaif), namun tetap bisa diamalkan karena berkaitan dengan keutamaan amal (fadha'il al-a'mal), tidak berbicara tentang halal-haram atau akidah.

Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menghidupkan malam hari raya adalah dengan memperbanyak ibadah, seperti shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa. Minimal, seseorang dapat menghidupkan malam tersebut dengan melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah .

Syekh Zakariyya al-Anshari dalam kitab Asna al-Mathalib (juz 1, hal. 281) juga menyebutkan bahwa pada malam Idul Fitri disunnahkan untuk memperbanyak doa, sebab termasuk waktu yang mustajab (diijabah) sebagaimana terkabulnya doa di malam Jumat dan malam-malam mustajab lainnya.

2. Mandi Sunnah Idul Fitri

Di pagi hari sebelum berangkat shalat Id, umat Islam dianjurkan untuk mandi sunnah. Ini adalah amalan yang telah dicontohkan oleh para sahabat dan menjadi kesepakatan ulama tentang kesunnahannya.

Imam Malik meriwayatkan hadis dalam kitab Al-Muwatha': "Dari Nafi' bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat pagi ke tanah lapang." (HR. Malik dalam Al-Muwatha' No. 426)

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa para ulama sepakat akan disunnahkannya mandi untuk shalat Id, sebagaimana mandi untuk shalat Jumat juga disunnahkan karena saat itu adalah saat berkumpulnya orang banyak.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam kitab Tuhfah al-Habib 'Ala Syarh al-Khathib menjelaskan bahwa mandi Idul Fitri disunnahkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk wanita yang sedang haid atau nifas. Kesunnahan ini juga berlaku bagi mereka yang tidak menghadiri shalat Id, seperti orang sakit.

Waktu pelaksanaan mandi dimulai sejak tengah malam Idul Fitri hingga tenggelamnya matahari di keesokan harinya, namun lebih utama dilakukan setelah terbit fajar.

Niat Mandi Idul Fitri:

نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu ghusla 'îdil-fiṭri sunnatan lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Aku niat mandi Idul Fitri, sunnah karena Allah Ta'ala.".

 

3. Memakai Pakaian Terbaik dan Berhias

Idul Fitri adalah hari raya, maka sudah sepantasnya seorang muslim berpenampilan terbaik sebagai bentuk syukur dan ekspresi kebahagiaan.

Sahabat Jabir bin Abdillah RA berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum'at." (HR. Ibnu Khuzaimah No. 1765)

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar RA juga dikenal: "Ibnu Umar memakai pakaian terbaiknya saat hari raya." (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra).

Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah al-Zain menyebutkan bahwa pakaian terbaik adalah pakaian warna putih meskipun tidak baru untuk shalat Jumat, dan pakaian baru untuk shalat Id .

Bagi laki-laki, dianjurkan juga memakai wewangian sebagai bagian dari berhias. Sahabat Ibnu Umar RA dikenal gemar memakai wewangian di hari raya.

Sementara bagi perempuan, khususnya yang muda atau yang berpenampilan menawan, dianjurkan untuk tidak memakai wewangian yang mencolok agar tidak menimbulkan fitnah, kecuali jika tujuannya untuk menyenangkan suami.

4. Makan Sebelum Berangkat Shalat Id

Salah satu sunnah yang membedakan Idul Fitri dengan Idul Adha adalah anjuran makan sebelum berangkat shalat.

Dari Anas bin Malik RA, beliau berkata: "Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berangkat di hari raya Idul Fitri hingga beliau makan beberapa biji kurma." (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau memakannya dalam jumlah ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh butir .

Imam al-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab menjelaskan: "Sunah makan sebelum salat di hari Idul Fitri, dan tidak makan sebelum salat di hari Idul Adha."

Hikmah dari amalan ini adalah untuk menegaskan bahwa pada hari itu umat Islam diharamkan berpuasa, sekaligus sebagai bentuk syukur atas nikmat berbuka setelah sebulan berpuasa.

 

5. Membayar Zakat Fitrah Sebelum Shalat Id

Zakat fitrah adalah kewajiban yang harus ditunaikan sebelum pelaksanaan shalat Id.

Ibnu Umar RA meriwayatkan: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah bulan Ramadhan atas setiap jiwa dari kaum muslimin, baik merdeka maupun hamba, laki-laki atau perempuan, yaitu satu sha' kurma atau satu sha' gandum." (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam al-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa waktu paling utama untuk membayar zakat fitrah adalah sejak ba'da Maghrib di malam Idul Fitri hingga Imam naik mimbar saat pelaksanaan shalat Id . Bahkan, mengakhirkan waktu pelaksanaan shalat Id hingga matahari naik sepenggalah dianjurkan agar waktu pembayaran zakat fitrah semakin panjang.

6. Memperbanyak Takbir di Perjalanan

Takbir adalah syiar terbesar Idul Fitri. Mengumandangkannya di perjalanan menuju tempat shalat adalah sunnah yang dianjurkan.

Allah SWT berfirman: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185).

Az-Zuhri, seorang ulama tabi'in, meriwayatkan tentang perilaku para sahabat: "Para sahabat membaca Takbir di hari raya saat keluar dari rumah mereka hingga ke tempat shalat dan hingga imam keluar. Jika imam sudah keluar maka mereka berhenti takbir. Jika imamnya membaca takbir maka mereka ikut takbir." (Mushannaf Ibni Abi Syaibah).

Waktu takbir dimulai sejak tenggelamnya matahari pada malam 1 Syawal hingga takbiratul ihramnya imam shalat Id.

Bacaan Takbir yang Utama:

Salah satu bacaan takbir yang utama sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj karya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami (juz 3, hal. 54):

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illa Allāh, Allāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd. Allāhu akbaru kabīrā, wal-ḥamdu lillāhi kathīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā. Lā ilāha illa Allāh, wa lā na‘budu illā iyyāh, mukhliṣīna lahud-dīna wa law karihal-kāfirūn. Lā ilāha illa Allāh waḥdah, ṣadaqa wa‘dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah. Lā ilāha illa Allāh, wa Allāhu akbar.

 

7. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat

Jika memungkinkan, dianjurkan untuk berjalan kaki menuju tempat pelaksanaan shalat Id.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berkata: "Termasuk sunnah Nabi adalah keluar menuju tempat shalat Id dengan berjalan." (HR. At-Tirmidzi, dan beliau menyatakannya sebagai hadis hasan)

Syekh Zakariyya al-Anshari dalam kitab Asna al-Mathalib (juz 1, hal. 282) menjelaskan bahwa berjalan kaki menuju tempat shalat Id adalah sunnah. Namun, bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik, seperti orang tua atau orang lumpuh, diperbolehkan untuk menggunakan kendaraan.

8. Melaksanakan Shalat Idul Fitri

Shalat Id adalah inti dari rangkaian ibadah di pagi hari raya. Ia adalah simbol kemenangan dan syiar Islam yang agung.

Allah SWT berfirman: "Maka shalatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2)

Mayoritas pakar tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud shalat dalam ayat ini adalah shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).

Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj (juz 3, hal. 39) menjelaskan bahwa shalat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dikukuhkan), bahkan sebagian pendapat menyatakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) karena merupakan syiar Islam yang agung. Nabi Muhammad SAW sendiri rutin melaksanakan shalat Id setiap tahunnya sejak tahun kedua hijriyah.

Waktu shalat Idul Fitri dimulai sejak terbitnya matahari sampai masuk waktu zhuhur (tergelincirnya matahari). Sunnah untuk mengakhirkannya hingga matahari naik satu tombak (sekitar 3,36 meter) .

Tata Cara Shalat Id

Shalat Idul Fitri dilakukan sebanyak dua rakaat dengan ketentuan:

  • Rakaat pertama: 7 kali takbir (di luar takbiratul ihram) sebelum membaca Al-Fatihah
  • Rakaat kedua: 5 kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah

Niat Shalat Id:

نَوَيْتُ صَلَاةَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shalâta 'îdil fithri sunnatan ma'mûman lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Aku niat shalat Idul Fitri sunnah, bermakmum, karena Allah Ta'ala.".

 

9. Mendengarkan Khutbah dengan Seksama

Setelah shalat, dilanjutkan dengan khutbah Idul Fitri. Mendengarkan khutbah adalah bagian dari kesempurnaan ibadah hari raya.

Mendengarkan khutbah dengan seksama dan menghindari berbicara dengan orang lain adalah adab yang dianjurkan. Hal ini agar tercipta suasana yang kondusif bagi jamaah untuk mengambil pelajaran dari nasihat-nasihat yang disampaikan.

10. Mengambil Jalan Pulang yang Berbeda

Salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah adalah mengambil rute yang berbeda antara perjalanan pergi dan pulang.

Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata: "Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: 'Nabi SAW di hari raya, beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang.'" (HR. Bukhari No. 986).

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari (juz 2, hal. 473) memberikan analisis tentang hikmah di balik sunnah ini. Hikmahnya agar Nabi berziarah ke kerabatnya baik yang hidup atau yang telah wafat.

Hikmah lainnya adalah agar semakin banyak orang yang ditemui dan disapa sepanjang jalan, serta agar bumi yang diinjak semakin luas, yang kelak akan menjadi saksi atas amalan ibadah kita.

 

11. Saling Mengucapkan Selamat (Tahniah)

Idul Fitri adalah hari kegembiraan, dan salah satu ekspresinya adalah saling mengucapkan selamat dan mendoakan sesama muslim.

Jubair bin Nufair meriwayatkan: "Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika berjumpa di hari raya, satu sama lain saling mengucapkan, 'Taqabbalallahu minna wa minka' (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu)."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari (juz 2, hal. 446) menyatakan bahwa sanad atsar ini hasan (baik). Ucapan ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga doa dan bentuk kebersamaan antar sesama muslim.

12. Menjalin Silaturahmi

Puncak dari rangkaian ibadah Idul Fitri adalah menjalin dan mempererat silaturahmi dengan keluarga, tetangga, kerabat, dan sesama muslim.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Silaturahmi di hari raya adalah momentum yang tepat untuk saling memaafkan, menghapus dendam, dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

People Also Ask:

Apa hikmah dari Hari Raya Idul Fitri?

Hikmah Idul Fitri mengingatkan kita untuk menjaga kesucian tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kezaliman. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang berhasil menundukkan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Apa pesan Idul Fitri yang bagus?

Semoga Idul Fitri ini membawa sukacita dan kedamaian bersama keluarga dan orang-orang terkasih. Semoga Idul Fitri ini membawa cahaya dan kebahagiaan ke rumah dan hati Anda. Semoga iman dan pengabdian Anda semakin kuat di Idul Fitri ini, dan semoga Anda menemukan kedamaian dalam segala hal yang Anda lakukan. Mengirimkan ucapan terbaik untuk hari yang penuh kebahagiaan, cinta, dan berkah Allah.

Apa makna Lebaran sesungguhnya?

Makna Idul Fitri dalam Islam

Suci artinya bersih dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan. Ini mencerminkan bahwa setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, seorang Muslim diharapkan kembali kepada kesucian hati dan jiwa.

Apa pelajaran atau hal baik yang kamu dapat dari Lebaran Idul Fitri?

Idul Fitri mengajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan lebih sabar, ikhlas, dan penuh kasih sayang. Memberikan sedekah dan berbagi kebahagiaan dengan sesama membuat seseorang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Apa pesan utama dari Idul Fitri?

Idul Fitri: Asal Usul: Idul Fitri dirayakan di akhir Ramadan, bulan suci puasa dalam agama Islam. Bulan puasa dipandang sebagai waktu untuk refleksi spiritual, disiplin diri, dan pengabdian kepada Tuhan . Idul Fitri menandai berakhirnya periode ini dan dimulainya bulan baru dalam kalender lunar Islam.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya