Liputan6.com, Jakarta - Aksi berbagi sepanjang Ramadan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk belanja baju lebaran. Sebanyak 50 anak mualaf keturunan Baduy dari Kampung Ciater, Leuwidamar, Lebak, diajak mendatangi toko pakaian di Rangkasbitung, Banten, pada Minggu, 8 Maret 2026.
Perjalanan menuju Rangkasbitung memakan waktu sekitar dua jam dari kampung mereka. Meski harus menempuh perjalanan jauh, kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak saat memilih baju lebaran yang mereka sukai.
Advertisement
Salah satu anak yang ikut kegiatan tersebut, Eeng, mengungkapkan kebahagiaannya dengan cara sederhana. Ia tersenyum lebar saat ditanyai perasaannya mengikuti kegiatan tersebut.
Inisiatif mengajak anak-anak mualaf eks Baduy itu datang dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang bersinergi dengan Paragon Corp. Lewat program Belanja Bahagia Ramadan, kegiatan itu diharapkan memberi pengalaman baru bagi anak-anak. Mereka bisa belajar mengenal nilai uang dan cara menghitung saat berbelanja, sehingga menjadi bagian dari pembelajaran literasi keuangan secara langsung.
Tokoh literasi nasional, Kang Maman, yang mendukung kegiatan ini menilai program tersebut tidak hanya memberi kebahagiaan, tetapi juga memberdayakan anak-anak.
"Saya sangat surprise. Anak-anak ini ternyata semakin memahami apa itu uang dan bagaimana menghitung saat berbelanja. Jadi gerakan ini bukan hanya membahagiakan, tetapi juga memberdayakan," ujarnya.
Keluar dari Baduy Dalam
Public Relations BMH, Imam Nawawi, menjelaskan bahwa kegiatan ini terwujud melalui sinergi antara dunia usaha dan lembaga filantropi untuk menghadirkan kebahagiaan yang lebih luas.
"Kolaborasi antara BMH dan Paragon Corp menunjukkan bahwa ketika dunia usaha dan lembaga sosial bersinergi, manfaat yang dihadirkan bisa menjangkau lebih banyak pihak, termasuk anak-anak mualaf di wilayah pedalaman," jelasnya.
Ia menjelaskan, anak-anak mualaf eks Baduy itu memilih memeluk agama Islam, meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya. Menurut adat asli Baduy, mereka yang memilih ajaran lain harus keluar dari wilayah Baduy dalam.
"Jadi, mereka telah BMH bangunkan 40 rumah dengan mendirikan perkampungan mualaf eks-Baduy. Program ini sudah berjalan selama enam tahun dengan pembina mereka, dai tangguh Ustaz Suprianto," sambung Imam.