Liputan6.com, Jakarta - Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kecil dengan diameter kurang dari lima milimeter (sekitar 0,2 inci). Partikel ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu mikroplastik primer dan sekunder.
Mikroplastik primer berasal dari partikel kecil maupun serat mikro yang dilepaskan oleh berbagai produk komersial, seperti kosmetik, pakaian, tekstil, serta jaring ikan.
Advertisement
Sementara itu, mikroplastik sekunder yang jumlahnya paling dominan terbentuk dari pecahan benda plastik berukuran lebih besar, misalnya botol air minum. Proses penguraian tersebut terjadi akibat paparan faktor lingkungan, seperti radiasi sinar matahari dan hempasan gelombang laut.
Partikel mikroplastik telah bersembunyi hampir di setiap sudut lingkungan, mulai dari udara, tanah, hingga perairan. Air minum, laut, perairan tawar, bahkan kawasan kutub pun tercatat mengandung partikel berbahaya ini dalam konsentrasi yang cukup tinggi.
Beberapa temuan yang disoroti menurut laporan dari laman earth.org meliputi keberadaan mikroplastik dalam air minum, perairan laut, ekosistem air tawar, hingga di wilayah kutub.
Mikroplastik dalam Air Minum
Mikroplastik telah terdeteksi dalam air minum, baik air keran maupun air kemasan. Sebuah penelitian pada 2017 yang menganalisis 159 sampel dari 14 negara menunjukkan bahwa sekitar 83 persen sampel mengandung partikel plastik.
Amerika Serikat tercatat memiliki tingkat kontaminasi tertinggi, yakni mencapai 94 persen. Sementara itu, sejumlah negara di Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Prancis mencatat tingkat yang lebih rendah, namun tetap signifikan, yakni sekitar 72 persen.
Meskipun temuan ini mengkhawatirkan, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang benar-benar meyakinkan bahwa keberadaan mikroplastik dalam air minum menimbulkan risiko kesehatan utama bagi manusia.
Penelitian terbaru, termasuk panduan dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa, menunjukkan bahwa partikel mikroplastik berukuran lebih dari 150 mikrometer kemungkinan besar tidak akan diserap oleh tubuh, melainkan hanya melewati sistem pencernaan. Sementara itu, partikel yang berukuran lebih kecil diperkirakan hanya terserap dalam jumlah yang sangat terbatas.
Meski demikian, paparan mikroplastik tidak hanya berasal dari air minum. Potensi dampaknya juga dapat terjadi melalui jalur lain, seperti menghirup partikel di udara maupun melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Mikroplastik di Lautan
Gugusan Sampah Besar Pasifik yang dikenal luas sebagai kumpulan puing, termasuk mikroplastik, di wilayah Samudra Pasifik Utara telah memicu kekhawatiran serius mengenai dampak mikroplastik terhadap ekosistem laut.
Sebuah studi pada tahun 2021 memperkirakan bahwa sekitar 24,4 triliun keping mikroplastik mengapung di lapisan permukaan samudra dunia. Total beratnya diperkirakan mencapai 82.000 hingga 578.000 ton, setara dengan kira-kira 30 miliar botol plastik air berukuran setengah liter.
Meskipun dampak langsung mikroplastik dalam air minum terhadap kesehatan manusia masih dianggap relatif terbatas, ancamannya terhadap organisme akuatik tergolong sangat serius bahkan dapat berakibat fatal.
Salah satu risiko utama adalah jeratan sampah plastik yang dapat menyebabkan hewan laut tenggelam, kehabisan napas, atau tersedak.
Secara global, sekitar 55 persen kasus yang didokumentasikan pada organisme laut berkaitan dengan jeratan tersebut. Spesies seperti penyu laut, burung laut, dan krustasea termasuk yang paling rentan.
Selain itu, konsumsi mikroplastik oleh organisme laut juga semakin memperparah kondisi kesehatan laut, dengan menyumbang sekitar 31 persen dari seluruh insiden negatif yang tercatat.
Mikroplastik di Air Tawar
Kontaminasi mikroplastik telah terdeteksi pada berbagai sistem perairan tawar alami di dunia, seperti lahan basah, danau, dan sungai. Beberapa contoh di antaranya adalah Danau Superior di Amerika Utara, sejumlah danau Swiss di Eropa, serta Danau Taihu di Tiongkok yang semuanya dilaporkan mengandung partikel mikroplastik.
Meski demikian, tingkat konsentrasinya berbeda-beda. Air permukaan danau di Tiongkok dan Arab Saudi tercatat memiliki tingkat pencemaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan badan air di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang cenderung menghadapi permasalahan mikroplastik yang lebih serius.
Organisme yang hidup di ekosistem air tawar juga menghadapi ancaman yang sama dengan organisme laut, yaitu risiko terjerat maupun menelan mikroplastik.
Terlebih lagi, badan perairan tawar terutama sungai dapat menjadi tempat penumpukan mikroplastik yang menciptakan impilkasi luas terhadap keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Sebuah studi pada 2022 menunjukkan bahwa mikroplastik cenderung terkonsentrasi di daerah dengan arus air yang lambat, seperti pada bagian sungai yang mengalir pelan atau area dekat hulu.
Dalam kondisi aliran yang rendah, puing-puing plastik dapat hampir tidak berpindah tempat dan bahkan memerlukan waktu hingga tujuh tahun untuk bergerak sejauh satu kilometer.
Kondisi ini memperbesar peluang terjadinya akumulasi mikroplastik di area tersebut. Akibatnya, organisme yang hidup di zona perairan berarus lambat menjadi sangat rentan menelan partikel-partikel mikroplastik yang bertahan lama di lingkungan itu.
Mikroplastik di Wilayah Kutub
Wilayah kutub sering dianggap jauh dari pengaruh polusi karena lokasinya yang terpencil dari pusat permukiman dan kegiatan ekonomi. Namun kenyataannya, puing-puing plastik kecil tetap ditemukan di inti es dan lapisan salju di kawasan Arktik maupun Antartika.
Hal tersebut diperkirakan sampai ke wilayah ini melalui berbagai mekanisme alam, seperti debu atmosfer, hembusan angin, arus laut, serta faktor meteorologi lainnya.
Di kawasan Arktik, perubahan iklim diproyeksikan akan mencairkan sekitar 2,04 triliun meter kubik es di masa mendatang. Proses pencairan ini berpotensi melepaskan sedikitnya satu triliun partikel plastik yang sebelumnya tersimpan.
Sedangkan di Antartika, penelitian pada 2022 untuk pertama kalinya menemukan mikroplastik dalam salju yang baru turun. Konsentrasinya mencapai sekitar 29 partikel mikroplastik per liter salju cair, angka yang lebih tinggi dibandingkan temuan sebelumnya pada es laut Antartika yang rata-ratanya sekitar 12 partikel plastik per liter air.
Keberadaan mikroplastik di es laut Antartika ini dikhawatirkan dapat mengganggu, bahkan berpotensi merusak, keseimbangan rantai makanan di ekosistem laut kawasan tersebut.
Bagaimana Cara Mengatasi Polusi Mikroplastik di Perairan?
Upaya mengatasi pencemaran mikroplastik dapat dilakukan melalui peningkatan infrastruktur pengolahan air. Instalasi pengolahan air limbah dan air minum modern terbukti sangat efektif, bahkan mampu menyaring lebih dari 90 persen partikel mikroplastik dari air limbah.
Perluasan adopsi sistem filtrasi canggih ini diharapkan memiliki efektivitas serupa dalam menghilangkan mikroplastik dari sumber air minum
Selain itu, inovasi teknologi dan kebijakan global juga berperan penting dalam menekan sumber pencemaran. Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan adalah mikro-robot berbentuk “robo-ikan” yang dirancang untuk membersihkan permukaan air dengan menempel pada mikroplastik melalui interaksi kimia dan elektrostatik. Teknologi ini berpotensi digunakan untuk mengumpulkan mikroplastik secara lebih terarah di perairan.
Di sisi kebijakan, lembaga internasional seperti Program Lingkungan PBB (UNEP) terus memimpin upaya kebijakan global, mempromosikan pengurangan penggunaan plastik, peningkatan investasi pada sistem daur ulang, serta evaluasi fasilitas pembuangan limbah di berbagai negara.
Namun demikian, penanganan krisis mikroplastik juga memerlukan perubahan perilaku konsumen.
Masyarakat dapat berkontribusi dengan mengurangi penggunaan plastik, memilih produk berbahan ramah lingkungan dan mudah terurai, serta memperpanjang masa pakai barang plastik melalui penggunaan kembali dan daur ulang. Pendekatan yang menyasar tahap produksi, pengelolaan, hingga pembuangan ini menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sistem air global.