Efek Domino Penutupan Selat Hormuz: Minyak Mahal, Inflasi hingga Harga Emas Terus Naik

Kegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel hingga penutupan Selat Hormuz bisa mendorong kenaikan harga minyak mentah.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 Maret 2026, 07:00 WIB
Penampakan emas batangan di gerai Butik Emas Antam di Jakarta, Jumat (5/10). Pada perdagangan Kamis 4 Oktober 2018, harga emas Antam berada di posisi Rp 665 ribu per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai memanasnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel bisa mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Jika terjadi kenaikan harga minyak mentah, maka diperkirakan akan memicu inflasi global. Hal ini karena minyak menjadi komponen utama dalam biaya logistik, transportasi, serta berbagai sektor industri.

Ketika harga energi meningkat, biaya produksi dan distribusi barang ikut naik. Kondisi ini mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara luas, sehingga tekanan inflasi semakin tinggi di berbagai negara.

"Ya, di sisi lain pun juga, kenaikan harga minyak mentah ini akan membuat inflasi. Inflasi ini menyebabkan barang-barang turunannya akan mengalami kenaikan, terutama dalam logistik dan transportasi, dan konsumsi yang membuat inflasi naik," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (8/3/2026).

Dalam situasi inflasi yang meningkat, emas biasanya kembali diminati sebagai instrumen lindung nilai. Ibrahim menilai kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga emas dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang.

"Dan ini akan berdampak terhadap kenaikan harga emas dunia secara jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang," ujarnya.

 

Ketegangan Politik AS Tambah Ketidakpastian

Sebuah bendera Kuba terlihat di sebelah bendera Amerika Serikat di luar kedutaan besar AS di Havana, Selasa (17/5/2022). Pemerintahan Presiden AS, Joe Biden mengumumkan akan melonggarkan pembatasan atas pengetatan yang diberlakukan selama pemerintahan Donald Trump terhadap Kuba dan mencabut batas saat ini $1.000 per kuartal yang dapat dikirim imigran kepada anggota keluarga yang masih tinggal di pulau itu. (AP Photo/Ramon Espinosa)

Selain konflik Timur Tengah, dinamika politik di Amerika Serikat juga berpotensi menambah ketidakpastian global. Ibrahim menyebut adanya kemungkinan Amerika melakukan serangan terhadap Kuba setelah insiden penembakan terhadap warga sipil Amerika oleh tentara Kuba.

Jika konflik tersebut benar-benar terjadi, tensi geopolitik global akan semakin meningkat. Hal ini berpotensi kembali mendorong permintaan emas sebagai aset pelindung nilai.

"Kemungkinan besar bahwa Amerika akan melakukan penyerangan terhadap Kuba, negara kecil yang kemungkinan besar ini pun juga akan membuat tensik geopolitik kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sehingga membuat harga emas kembali mengalami kenaikan," ujarnya.

 

Perpolitikan AS

Bendera Amerika Serikat (AP PHOTO)

Di sisi lain, konflik militer di Timur Tengah juga menimbulkan perdebatan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Beberapa anggota Kongres menilai keputusan perang dilakukan tanpa diskusi terlebih dahulu dengan lembaga legislatif.

Akibatnya, Kongres tengah menyiapkan regulasi untuk membatasi kewenangan presiden dalam mengambil keputusan terkait perang. Ketidakpastian politik ini turut menambah faktor risiko di pasar global yang dapat mendukung kenaikan harga emas.

"Dari segi perpolitikan Amerika, ya perpolitikan Amerika secara bersamaan, perang yang terjadi di Timur Tengah ini pun juga tanpa diskusi dulu dengan Kongres, yang kemudian Kongres pun juga membuat satu peraturan, undang-undang untuk membatasi presiden dalam masalah perang," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya