Ratusan Siswa SMA Keracunan MBG di NTT, Diduga Berasal dari Daging Ayam yang Tak Matang

Ratusan siswa SMA keracunan MBG diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan yang tidak matang.

oleh Ola KedaDiterbitkan 07 Maret 2026, 15:32 WIB
Ratusan Siswa SMA Keracunan MBG di NTT

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan yang disajikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat 6 Maret 2026.

Dari ratusan siswa dan guru yang mengalami gejala perut mual, dan diare, hanya tujuh orang yang dilarikan ke puskesmas guna mendapatkan perawatan. Tujuh orang siswa SMA Negeri 1 Insana ini merupakan siswa di kelas berbeda di sekolah itu.

Satgas MBG Kabupaten TTU mengambil sampel makanan yang disajikan untuk diperiksa di Laboratorium Provinsi NTT di Kupang. Menu makanan yang disajikan yakni nasi putih, ayam woku, tempe saos tiram, tumis labu dan klengkeng sesuai dengan rekomendasi ahli gizi.

Usai menyantap, siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana tersebut dikabarkan mengalami diare, mual, sakit perut dan masih dalam kondisi lemah.

Kepala SMA Negeri 1 Insana, Sekunda Nofu menegaskan kesehatan siswa adalah prioritas utama dan sekolah tidak akan mentolerir kelalaian yang mengancam keselamatan peserta didik.

Dia mengatakan, SPPG Susulaku telah mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan standar higienitas makanan. Mereka berjanji melakukan investigasi mendalam untuk menemukan akar masalah dan mengambil langkah korektif agar kejadian serupa tidak terulang.

"Ada ratusan yang mengalami gejala tali hanya tujuh yang dilarikan ke puskesmas. Sudah 4 siswa diperbolehkan pulang usai menerima perawatan medis. Sementara tiga lainnya masih menjalani rawat inap," ungkapnya.

Daging Belum Matang

Ketua Satgas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) TTU Kamillus Elu menyebut berdasarkan laporan yang disampaikan Dinas Kesehatan, daging ayam yang disajikan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Susulaku di bawah naungan Yayasan Nekmese Mafiti Matulun tidak matang.

Daging ayam yang disajikan terlihat kemerahan dan belum menunjukkan tanda-tanda matang sempurna. "Laporan dari Dinas Kesehatan itu, daging (ayam) itu masaknya tidak sampai matang. Kemudian ada sayur yang sudah basi," ujar Kamillus.

Pihaknya sudah menyampaikan teguran kepada Korwil SPPI Kabupaten TTU, SPPI dan pemilik Dapur SPPG agar berhati-hati dalam menyajikan makanan kepada sasaran.

Pasalnya, mereka dibiayai oleh negara untuk melaksanakan program itu. Ia juga sudah menegaskan kepada SPPI dan pengelola SPPG agar menggunakan daging segar untuk menyajikan makanan bukan daging beku.

Dia menegaskan, proses produksi daging beku belum diketahui secara pasti dari aspek higienis dan jangka waktu proses pembekuan. Semestinya, ahli gizi yang telah digaji negara bisa memastikan kelayakan makanan melakukan pengawasan dan pemeriksaan secara maksimal.

"Program MBG ini sangat baik. Kendati demikian, pengelola Dapur SPPG ini semestinya melakukan pengawasan ketat terhadap setiap produk makanan," tegasnya.

Di Kabupaten TTU, kata Kamillus, penyajian MBG sudah mengalami beberapa kali kasus seperti makanan berulat, anak-anak keracunan makanan dan lain-lain.

"Belajar dari kasus ini, semestinya SPPI dan pemilik Dapur SPPG harus mewanti-wanti proses penyajian makanan," tutupnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya