Liputan6.com, London - Sebuah pesawat pengebom strategis milik Amerika Serikat, B-1B Lancer, mendarat di pangkalan udara RAF Fairford di wilayah Gloucestershire, Inggris, pada Jumat. Kedatangan pesawat tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran.
Pemerintah Inggris sebelumnya memberikan izin kepada Washington untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya, namun hanya untuk mendukung serangan defensif terhadap fasilitas rudal Iran.
Advertisement
Sejumlah pejabat Barat menyatakan awal pekan ini bahwa Inggris memang bersiap menerima pesawat pengebom tersebut dalam beberapa hari ke depan, dikutip dari BBC, Sabtu (7/3/2026).
Pesawat B-1 Lancer, yang dijuluki “The Bone”, merupakan salah satu pengebom strategis utama Angkatan Udara AS. Pesawat sepanjang 44,5 meter itu memiliki bentang sayap sekitar 41,8 meter dan berat mencapai 86 ton. Menurut pabrikan Boeing, pesawat ini dapat melaju dengan kecepatan lebih dari 900 mil per jam atau sekitar 1.448 kilometer per jam, menjadikannya salah satu pengebom tercepat yang dimiliki AS. Pesawat ini juga mampu membawa hingga 24 rudal jelajah serta dilengkapi radar dan sistem navigasi GPS canggih, serta perangkat pengacau elektronik untuk menghindari serangan musuh.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran kemungkinan akan meningkat secara signifikan.
“Ini berarti lebih banyak skuadron pesawat tempur, lebih banyak kemampuan pertahanan, dan serangan pengebom yang lebih sering,” ujarnya pada Kamis.
Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga melakukan pembicaraan dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dari Arab Saudi. Dalam percakapan tersebut, Starmer menegaskan Inggris siap membantu pertahanan kerajaan jika diperlukan.
Pengiriman Pesawat Tempur Tambahan
Pemerintah Inggris juga mengumumkan pengiriman tambahan pesawat tempur, helikopter, dan kapal perusak ke kawasan Timur Tengah, serta peningkatan kerja sama intelijen untuk melindungi warga sipil dan mendukung operasi pertahanan.
Meski memberikan akses pangkalan kepada AS, Inggris menegaskan belum secara langsung terlibat dalam serangan terhadap Iran. Sejauh ini, militer Inggris lebih fokus pada upaya pertahanan udara, termasuk menembak jatuh rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke sekutu Barat di kawasan.
Namun, tekanan politik muncul di dalam negeri. Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch mendesak pemerintah agar memberi izin kepada Angkatan Udara Inggris untuk menyerang langsung lokasi peluncuran rudal Iran.
Menurutnya, langkah pencegahan diperlukan untuk menghentikan ancaman sebelum serangan terjadi. Meski demikian, Badenoch menegaskan ia tidak menginginkan pengerahan pasukan darat dalam konflik tersebut.