Negara Teluk Frustrasi ke AS: Serangan Iran Terjadi Tanpa Peringatan Memadai

Sejumlah pejabat dari dua negara Teluk mengungkapkan kekecewaan terhadap cara Amerika Serikat menangani konflik Iran.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 06 Maret 2026, 17:04 WIB
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026. Dua ledakan keras terdengar di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026 pagi hari. (Foto oleh AFP)

Liputan6.com, Teheran - Pemerintahan Donald Trump menghadapi meningkatnya ketidakpuasan dari sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Negara-negara Arab (negara Teluk) di kawasan itu menilai Washington tidak memberi waktu yang cukup bagi mereka untuk bersiap menghadapi gelombang serangan drone dan rudal Iran, yang dilancarkan sebagai balasan atas operasi militer AS dan Israel terhadap Teheran.

Sejumlah pejabat dari dua negara Teluk mengungkapkan kekecewaan terhadap cara Amerika Serikat menangani konflik tersebut, terutama terkait serangan awal terhadap Iran pada Sabtu lalu. Mereka menyebut pemerintah mereka tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai operasi militer gabungan AS-Israel tersebut.

Para pejabat itu juga menilai Washington mengabaikan peringatan dari negara-negara Teluk bahwa perang melawan Iran berpotensi menimbulkan konsekuensi besar bagi stabilitas kawasan, dikutip dari AP News, Jumat (6/3/2026).

Salah satu pejabat mengatakan negara-negara Teluk kini diliputi frustrasi, bahkan kemarahan, karena militer AS dianggap belum memberikan perlindungan yang memadai. Di kawasan tersebut berkembang pandangan bahwa operasi militer lebih difokuskan pada perlindungan Israel dan pasukan Amerika, sementara negara-negara Teluk harus menghadapi ancaman sendiri.

Ia menambahkan persediaan sistem pencegat rudal di negaranya “menyusut dengan cepat” seiring meningkatnya serangan dari Iran.

Para pejabat yang berbicara kepada media meminta identitas mereka dirahasiakan karena membahas isu diplomatik yang sensitif.

Pemerintah Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa kemampuan Iran telah melemah secara signifikan setelah operasi militer AS.

Menurut Kelly, serangan balasan rudal balistik Iran telah menurun hingga 90 persen setelah dilancarkannya Operasi Epic Fury, yang disebut berhasil merusak kemampuan Teheran untuk meluncurkan maupun memproduksi senjata tersebut.

“Presiden Trump berhubungan erat dengan semua mitra regional kami, dan serangan rezim Iran terhadap negara-negara tetangganya menunjukkan betapa pentingnya menghilangkan ancaman tersebut bagi negara kita dan sekutu kita,” kata Kelly.

Hingga kini, Pentagon belum memberikan tanggapan resmi.

 

Kritik Terbuka dari Tokoh Kawasan

Ruam merah pada leher Donald Trump jadi sorotan. (Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein)

Meski pemerintah negara-negara Teluk cenderung menahan diri secara resmi, sejumlah tokoh publik yang memiliki kedekatan dengan pemerintah mereka mulai melontarkan kritik terbuka terhadap Washington.

Salah satunya datang dari Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Saudi. Ia menilai konflik tersebut pada dasarnya merupakan perang yang didorong oleh Israel.

“Ini adalah perang Netanyahu,” ujar Turki dalam wawancara dengan CNN, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurutnya, Netanyahu berhasil meyakinkan Trump untuk mendukung pandangan Israel terkait konfrontasi dengan Iran.

Serangan Drone Sulit Dibendung

Di Washington, para pejabat Pentagon mengakui tantangan besar dalam menghadapi gelombang serangan drone Iran. Dalam pengarahan tertutup kepada anggota Kongres pekan ini, pejabat militer mengakui kesulitan menghentikan serangan drone yang terus diluncurkan ke berbagai target di kawasan Teluk.

Beberapa target militer AS di wilayah tersebut disebut menjadi rentan akibat keterbatasan sistem pertahanan terhadap drone.

Negara-negara Teluk sendiri menjadi sasaran strategis bagi Iran. Letaknya berada dalam jangkauan rudal jarak pendek Iran dan dipenuhi berbagai target bernilai tinggi, mulai dari pangkalan militer Amerika, pusat bisnis dan pariwisata, hingga fasilitas energi yang berperan penting bagi pasokan minyak global.

Sejak konflik dimulai, Iran dilaporkan telah menembakkan sedikitnya 380 rudal dan lebih dari 1.480 drone ke lima negara Teluk Arab. Berdasarkan perhitungan Associated Press dari pernyataan resmi pemerintah setempat, sedikitnya 13 orang tewas akibat serangan tersebut.

Korban juga datang dari pihak militer Amerika. Enam tentara AS dilaporkan tewas di Kuwait pada Minggu lalu setelah serangan drone Iran menghantam pusat operasi di sebuah pelabuhan sipil, lebih dari 16 kilometer dari pangkalan utama Angkatan Darat AS.

Menurut keluarga salah satu korban, fasilitas tersebut hanyalah bangunan bergaya kontainer pengiriman dan tidak memiliki perlindungan memadai.

Dalam pengarahan kepada Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine juga mengakui bahwa Amerika Serikat kemungkinan tidak mampu mencegat banyak drone yang datang, terutama jenis Shahed yang kerap digunakan Iran.

 

Kedutaan AS Ikut Disasar

Ilustrasi negara Amerika Serikat merayakan Memorial Day. Credits: pexels.com by Brett Sayles

Serangan drone juga menyasar fasilitas diplomatik Amerika. Serangan di kedutaan AS di Riyadh memicu kebakaran kecil, sementara serangan lain di Uni Emirat Arab menyebabkan kebakaran di luar konsulat AS di Dubai.

Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, Amerika Serikat dan sekutunya bahkan mempertimbangkan bantuan dari Ukraina yang memiliki pengalaman luas menghadapi drone Shahed buatan Iran.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pihaknya telah dimintai bantuan terkait keahlian tersebut.

Menanggapi hal itu, Trump menyatakan terbuka menerima bantuan dari negara mana pun.

“Tentu saja saya akan menerima bantuan dari negara mana pun,” kata Trump kepada Reuters.

Risiko bagi Negara Teluk Diremehkan

Analis kawasan dari Chatham House yang berbasis di Kuwait, Bader Mousa Al-Saif, menilai Washington kemungkinan telah meremehkan risiko bagi sekutu Arabnya.

Menurutnya, AS tampaknya mengasumsikan bahwa target utama pembalasan Iran adalah Israel dan pasukan Amerika.

“Saya rasa mereka tidak memperhitungkan bahwa negara-negara Teluk akan sangat terekspos,” kata Al-Saif.

Ia menilai minimnya rencana perlindungan bagi negara-negara Teluk mencerminkan pendekatan strategis AS yang terlalu sempit.

Kekecewaan negara-negara Teluk juga dipicu oleh perbandingan dengan Israel, yang dinilai lebih efektif menembak jatuh drone dan rudal Iran dibandingkan negara-negara Arab di kawasan tersebut.

Namun, sejumlah pejabat AS disebut heran mengapa negara-negara Teluk belum menunjukkan keinginan untuk melakukan serangan balasan langsung terhadap Iran.

Ancaman Eskalasi

Mantan utusan khusus AS untuk Iran pada masa pemerintahan Trump, Elliott Abrams, mengatakan kemampuan Iran melakukan serangan besar sebenarnya telah lama dipahami oleh negara-negara di kawasan.

“Negara-negara tetangga tahu kemampuan itu dan mereka takut,” ujarnya.

Menurut Abrams, serangan-serangan tersebut berpotensi menimbulkan permusuhan jangka panjang. Jika konflik terus berlanjut, negara-negara Teluk mungkin pada akhirnya akan ikut menyerang Iran.

Sementara itu, mantan duta besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney, menilai negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit.

Meski memiliki kepentingan melihat Iran melemah, mereka juga khawatir terhadap dampak perang yang berkepanjangan.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Negara-negara Teluk kemungkinan harus menanggung dampak paling berat dari situasi ini,” kata Ratney.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya