Kriteria Pasien Diabetes yang Boleh Berpuasa di Bulan Ramadan

Pasien diabetes diperbolehkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Namun, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, termasuk kadar gula darah yang harus selalu dicek.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 06 Maret 2026, 11:00 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik diabetes Profesor Hari Hendarto menjelaskan kriteria pasien diabetes yang diperbolehkan untuk berpuasa di bulan Ramadan.

Liputan6.com, Jakarta - Pasien diabetes ada yang boleh dan tidak menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadan. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik diabetes Profesor Hari Hendarto mengungapkan bahwa sebelum berpuasa baiknya pasien harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penyakit dalam yang selama ini menangani. 

"Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) dalam darah yang tinggi karena tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin dengan baik. Salah satu tantangan terbesar saat berpuasa bagi diabetesi adalah menjaga keseimbangan kadar gula agar tidak mengalami hiperglikemia maupun hipoglikemia," tutur Hari dalam temu media bersama Eka Hospital BSD pada Rabu, 4 Maret 2026.

Secara umum, diabetesi ringan dan sedang yang umumnya bisa berpuasa. Dokter akan memberikan penilaian dengan melihat kondisi pasien. Terdapat tabel penilaian yang berisi kriteria-kriteria kondisi diabetes. Semakin besar hasil penilaian tersebut, maka semakin berisiko untuk berpuasa.

"Kriteria pertama dari jenis diabetesnya. Jadi, pertama dia diabetes tipe 1 atau tipe 2, kalau diabetes tipe 2 karena makanan itu lebih angkanya 0, alias risiko ringan," katanya.

Jika pasien diabetes memiliki diabetes tipe 1 yang merupakan bawaan lahir dan umumnya memerlukan suntik insulin rutin maka biasanya lebih tinggi nilainya yang menjadikannya masuk risiko sedang.

Penulaian selanjutnya, yakni kontrol gulanya darahnya yang dinilai dari saat pemeriksaan HBA1C yakni kadar gula darah rata-rata selama 3 bulan. Bila angka tersebut tinggi di atas 7,5 persen, maka bisa disebut gula darah tak terkontrol dan masuk dalam risiko tinggi.

"Kemudian obat-obatan yang dijalani, kalau masih metformin itu angkanya 0, kalo udah insulin, apalagi insulinnya udah campuran yang sehari bisa suntik 4 kali itu, angkanya 3,5 dan masuk risiko tinggi," katanya.

 

Wajib Cek Kadar Gula Secara Berkala

Bila pasien diabetes menjalankan ibadah puasa, diwajibkan mengecek kadar gula darah secara mandiri dan rutin. Hal tersebut untuk mencegah penurunan ataupun kenaikan kadar gula darah secara mendadak dan melewati ambang batas yang bisa ditoleransi tubuh.

"Yang terpenting itu dicek saat waktunya makan siang karena biasanya tubuh dapat asupan gula dan juga menjelang berbuka sekitar jam 4 sore, karena biasanya itu waktu kadar gula sedang rendah-rendahnya," kata Hari.

Jika saat mengecek kadar gula darah terlalu rendah di bawah 70 mg/dL, maka harus segera berbuka dengan yang manis seperti kurma dan coklat. Sedangkan, jika kadar gula darah terlalu tinggi yakni di atas 300 mg/dL, maka diabetesi juga wajib berbuka dan minum obat agar gula kembali terkontrol.

"Yang perlu diwaspadai adalah lansia, biasanya sensitivitasnya sudah berkurang sehingga tak merasa ada gejala tiba-tiba drop, maka kalau lansia tanpa pendamping apalagi sudah pikun maka sebaiknya tidak berpuasa," kata Hari.

Berbuka dengan yang Manis

Untuk makanan berbuka, Hari menganjurkan pasien diabetesi mengawalinya dengan yang manis. Seperti kurma, cokelat, dan sejenisnya. Hal tersebut lantaran kurma maupun cokelat bisa meningkatkan kadar gula darah secara cepat namun turunnya pun cepat.

"Tidak disarankan langsung makan nasi, karena nasi menaikkan gula darah secara lambat, namun bertahan lama, padahal diabetesi membutuhkan asupan gula yang cepat," katanya.

Setelah memakan takjil manis, diabetesi bisa langsung menjalankan salat Maghrib. Baru kemudian dilanjutkan dengan makan berat tapi tidak disarankan makan berat setelah salat Tarawih.

"Karena khawatir gula darahnya kembali drop dan malah akan collapse, jadi sebaiknya makan berat sebelum salat Tarawih karena kan memerlukan kalori yang cukup,"katanya.

Dia juga mengimbau, bagi diabetesi yang ingin menjalankan ibadah puasa, agar senantiasa memperhatikan sinyal tubuh sehingga tidak sampai terjadi hal fatal. Juga dianjurkan untuk memperhatikan jam atau jadwal meminum obat harian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya