Merasa Dianaktirikan Pemerintah, Warga di NTT Blokir Jalan dan Segel Kantor Desa

Bukan sebuah prestasi, NTT masuk tiga besar sebagai wilayah termiskin di Indonesia.

oleh Ola KedaDiterbitkan 05 Maret 2026, 09:20 WIB
Warga desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT, saat melakukan aksi pemblokiran jalan. (Liputan6.com/ Ola Keda)

 

Liputan6.com, Kupang - Puluhan warga Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memblokir jalan poros utama yang menghubungkan Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Nekamese, Rabu (4/3/2026) kemarin.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes atas ketimpangan pembangunan infrastruktur jalan yang terjadi selama hampir dua dekade.

Selain menutup akses jalan, warga yang dipimpin puluhan tokoh masyarakat, pemuda, dan ibu-ibu juga menyegel pintu gerbang Kantor Desa Sumlili.

Kapolsek Kupang Barat Ipda Muhammad Yuzakky, membenarkan adanya aksi tersebut. Ia menjelaskan sebagian besar warga yang melakukan protes berasal dari Dusun II Desa Sumlili.

"Sejak pagi hari, warga memblokir jalan menggunakan bambu, batang kayu, dan menanam pohon pisang di tengah badan jalan. Pemblokiran ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari menyebabkan aktivitas pengguna jalan ikut terganggu," jelasnya.

Ia mengatakan, warga mengeluhkan kondisi jalan yang rusak karena menyulitkan mobilitas sehari-hari, terutama bagi kelangsungan akses para petani dalam mengangkut hasil pertanian dan peternakan.

"Warga mengaku pada musim kemarau mereka terdampak debu, sementara saat musim hujan jalan dipenuhi air dan lumpur sehingga sulit dilalui," jelasnya.

Selain menuntut perbaikan jalan utama dari pemerintah daerah, warga juga menyampaikan kritik keras terhadap aktivitas sejumlah perusahaan galian C yang terus beroperasi di wilayah Sumlili, tanpa memberikan kontribusi infrastruktur dan hanya memperparah kerusakan jalan poros utama tersebut.

 

Mediasi Gagal

Yuzakky menambahkan, upaya komunikasi yang dilakukan pihak pemerintah kecamatan, kepolisian sektor, dan TNI sejak pagi hingga siang hari untuk membuka kembali akses jalan raya tidak membuahkan hasil. Hal serupa terjadi juga saat mediasi antara masyarakat dan perwakilan Bupati Kupang dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).

"Sekitar pukul 14.00 Wita, perwakilan Bupati Kupang yaitu Kepala Bapenda, Nano Ngagas, bersama tim mendatangi lokasi untuk mediasi. Namun, warga menolak bertemu dan bersikeras agar Bupati Kupang atau Gubernur NTT hadir langsung di lokasi," ungkapnya

Setelah komunikasi gagal, Kepala Bapenda Kabupaten Kupang, Nano Ngagas sempat berpesan agar para tokoh masyarakat dan warga untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban dan akan menyampaikan seluruh aspirasi warga langsung kepada Bupati Kupang. Hingga saat ini aksi pemblokiran jalan masih terus berlanjut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya