Liputan6.com, Damaskus - Ramadan di Suriah tidak sekadar bulan ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan antara tradisi, solidaritas sosial, dan identitas lokal yang diwariskan lintas generasi. Di tengah perubahan sosial dan ekonomi, sejumlah ritual lama tetap bertahan, meski sebagian lainnya mulai memudar.
Di berbagai kota, suasana Ramadan sudah terasa bahkan sebelum hilal terlihat. Pasar-pasar dipadati warga dalam tradisi yang dikenal sebagai “Hajjat Ramadan”, sebuah momen belanja kolektif menjelang bulan suci. Keluarga berbondong-bondong membeli kebutuhan pokok, bahan makanan, hingga perlengkapan dapur.
Advertisement
Salah satu kebiasaan yang masih dijumpai adalah memoles atau membeli baru peralatan masak berbahan tembaga. Kilau tembaga diyakini membawa keberkahan bagi hidangan yang tersaji di meja berbuka, dikutip dari laman EuroNews, Rabu (4/3/2026).
Di sejumlah wilayah pedesaan, tradisi lama seperti mengecat ulang dinding rumah dengan kapur putih sehari atau dua hari sebelum Ramadan masih dikenang, meski kini jarang dilakukan. Ritual itu melambangkan kebersihan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci. Lentera-lentera klasik juga mulai menghiasi jalanan, menghadirkan nuansa khas Ramadan Suriah.
Saat senja tiba, dentuman meriam menjadi penanda waktu berbuka yang paling dinanti. Secara historis, meriam Ramadan ditembakkan dari kawasan Citadel of Damascus. Namun tahun ini, meriam dilepaskan dari lereng Mount Qasioun.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, banyak meja makan kini bergeser menjadi paket bantuan yang dibagikan lembaga amal. Meski demikian, semangat berbagi dan kekhasan tradisi tetap menjadi denyut Ramadan di Suriah, menyatukan masyarakat dalam keberagaman wilayah dan budaya.