Dampak Ketegangan Iran: Sektor Energi Berpotensi Positif, Transportasi Tertekan

Pengamat pasar modal memperingatkan potensi koreksi IHSG dan risiko capital outflow akibat eskalasi konflik Israel-Iran yang melibatkan AS. Simak analisisnya.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 03 Maret 2026, 12:45 WIB
Karyawan berjalan di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik akibat konflik IsraelIran yang turut melibatkan Amerika Serikat dinilai berpotensi menekan pasar modal Indonesia dalam jangka pendek. Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengatakan risiko geopolitik global yang meningkat dapat memicu sentimen negatif di pasar keuangan.

“Konflik Israel–Iran yang melibatkan AS jelas meningkatkan risiko geopolitik global. Dampaknya ke pasar modal Indonesia bersifat negatif untuk jangka pendek melalui kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, dan potensi capital outflow dari emerging markets. IHSG berpotensi terkoreksi karena investor cenderung mengurangi aset berisiko. Namun, selama konflik tidak meluas dan jalur distribusi energi global tetap terkendali, tekanan ini cenderung sementara,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Selasa (3/3/2026).

Sektor Terdampak Positif dan Negatif

Ia menjelaskan, dampak konflik tersebut tidak merata di seluruh sektor. Sejumlah sektor justru berpeluang diuntungkan, terutama yang terkait energi dan komoditas, sementara sektor lain menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya dan risiko arus keluar modal.

“Sektor yang berpotensi positif adalah energi dan komoditas, terutama minyak dan gas, karena harga energi naik. Emas juga diuntungkan sebagai safe haven. Sementara yang negatif adalah sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya dan suku bunga seperti transportasi, manufaktur berbasis impor, serta perbankan jika terjadi arus keluar dana asing dan pelemahan Rupiah,” katanya.

Reydi menambahkan, secara global pasar saham cenderung bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Investor dinilai akan beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah Amerika Serikat apabila eskalasi konflik terus berlanjut, yang berpotensi mendorong inflasi global akibat lonjakan harga energi.

IHSG Hari Ini Dibuka Perkasa, Sektor Industri dan Energi Jadi Penopang Utama

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka perkasa pada perdagangan saham Selasa (3/3/2026). Sebagian besar sektor saham menghijau.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini dibuka di angka 8.059,86 dari penutupan sebelumnya di level 8.016,83. Pada pukul 09.10 WIB, IHSG masih melanjutkan penguatan dengan naik 0,78% atau 61 poin ke posisi 8.076,70.

Indeks saham LQ45 juga menguat 0,99% ke posisi 819,91. Seluruh indeks saham acuan terpantau berada di zona hijau.

Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 8.080 dan terendah 8.023,12.

Sebanyak 372 saham menguat dan mendorong ihsg ke zona hijau. Sementara itu, 195 saham melemah dan 146 saham stagnan.

Total frekuensi perdagangan saham tercatat 341.267 kali dengan volume perdagangan mencapai 6,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham sebesar Rp 7,9 triliun.

Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp 16.852.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor saham menghijau. Hanya satu sektor yang melemah, yakni sektor basic yang turun 0,92%.

Sektor industri mencatat penguatan terbesar dengan naik 2,66%, disusul sektor energi yang melambung 2,18%. Selanjutnya, sektor keehatan naik 0,75%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya