BI Ungkap Faktor Musiman di Balik Kenaikan Inflasi DKI Jakarta

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,63 persen secara bulanan, didorong kenaikan harga pangan dan emas

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 03 Maret 2026, 05:55 WIB
Ilustrasi reklame di DKI Jakarta.

 

Liputan6.com, Jakarta - Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta mencatat inflasi ibu kota pada Februari 2026 tetap terkendali meski terjadi kenaikan harga pangan menjelang Ramadan.

“DKI Jakarta pada Februari 2026 mencatatkan angka inflasi sebesar 0,63 persen (mtm/month to month) setelah di bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,23 persen (mtm),” kata Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Iwan Setiawan dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, capaian inflasi Jakarta tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,68 persen (mtm).

Kemudian, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Jakarta tercatat sebesar 4,91 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan nasional yang mencapai 4,76 persen. Kondisi ini dipengaruhi faktor base effect akibat rendahnya inflasi pada Februari tahun lalu setelah adanya diskon tarif listrik.

Menurut Iwan, kenaikan inflasi Jakarta pada Februari 2026 bersifat sementara dan diperkirakan kembali normal dalam waktu dekat. “Tekanan ini bersifat temporer dan diprakirakan kembali normal pada April 2026,” ujarnya.

Ia menjelaskan peningkatan permintaan musiman menjelang Ramadan serta gangguan produksi hortikultura akibat kondisi cuaca menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga. Tercatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kenaikan 2,23 persen (mtm), setelah sebelumnya mengalami deflasi.

Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah. Harga ayam meningkat seiring kenaikan harga live bird di tingkat produsen, sementara curah hujan tinggi di sentra produksi menurunkan kualitas dan kuantitas panen cabai serta bawang merah.

“Sementara itu curah hujan tinggi di sentra produksi menurunkan baik kualitas maupun kuantitas cabai dan bawang merah, bahkan menyebabkan gangguan panen komoditas hortikultura seperti bayam akibat genangan lahan,” ungkap Iwan.

 

Kondisi Ekonomi Global

Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain pangan, Iwan berujar ketidakpastian global turut memengaruhi inflasi melalui kenaikan harga emas dunia yang merambat pada harga emas perhiasan domestik. Inflasi emas perhiasan tercatat meningkat hingga 9,61 persen (mtm), dengan harga rata-rata melampaui Rp2 juta per gram.

Meski demikian, kata Iwan tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh kelompok transportasi yang masih mencatat deflasi sebesar 0,35 persen (mtm) setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi pada awal Februari 2026.

Iwan menyatakan, memasuki periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta memperkuat sinergi melalui High Level Meeting bersama Gubernur dan Wakil Gubernur guna memastikan kesiapan pasokan, kelancaran distribusi termasuk ke Kepulauan Seribu.

“Dengan sinergi yang diperkuat dalam TPID Provinsi DKI Jakarta, inflasi DKI Jakarta diharapkan akan terkendali dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen di sepanjang 2026,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya