AS-Israel Serang Iran, Bagaimana Nasib Nilai Tukar Rupiah?

Bagaimana nasib nilai tukar Rupiah di tengah memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat? Berikut ulasannya.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 02 Maret 2026, 10:00 WIB
Petugas menghitung uang pecahan US$100 di pusat penukaran uang, Jakarta, , Rabu (12/8/2015). Bagaimana nasib nilai tukar Rupiah di tengah memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat? (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya ditengah memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA), Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran yang mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global.

"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," kata Erwin, dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Selain itu, Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," ujarnya.

 

 

Konflik AS-Iran Berpotensi Lonjakan Drastis Oil Price Global

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Disisi lain, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Konflik AS-Iran ini dinilai berpotensi mendorong lonjakan drastis oil price global, bahkan memicu resesi ekonomi dalam skenario terburuk.

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari. Negara tersebut juga memiliki garis pantai di Selat Hormuz, jalur pelayaran terpenting dalam perdagangan minyak global.

Selama ini pasar dinilai cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Namun, mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai pasar meremehkan ancaman balasan Iran. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya