Liputan6.com, Jakarta - Cole Palmer disebut berada dalam kondisi “hancur” akibat kelelahan ekstrem, sementara Chelsea dinilai tengah menghadapi situasi burnout yang mengkhawatirkan.
Peringatan keras itu disampaikan oleh Kepala Eksekutif Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris (PFA), Maheta Molango, yang menilai padatnya kalender kompetisi telah melewati batas wajar.
Advertisement
Molango mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kesejahteraan pemain, terutama bintang muda seperti Palmer, yang dinilai terus dipaksa tampil tanpa jeda memadai.
Musim Panjang Tanpa Istirahat
Palmer menjalani musim penuh 2023/2024 bersama Chelsea, kemudian memperkuat Inggris di Euro 2024. Alih-alih mendapatkan libur musim panas yang cukup, ia kembali tampil membela klubnya di ajang Piala Dunia Antarklub.
Akibatnya, musim ini Palmer kesulitan menemukan performa terbaiknya dan dibekap cedera. Dari total 42 pertandingan yang bisa dimainkan Chelsea, ia baru tampil dalam 19 laga.
Situasi tersebut bukan hanya berdampak pada performa klub, tetapi juga mengancam masa depannya di level internasional. Palmer bahkan belum kembali masuk skuad pilihan pelatih Inggris, Thomas Tuchel, sejak Juni tahun lalu. Jika kondisi ini berlanjut, peluangnya tampil di Piala Dunia musim panas mendatang bisa sirna.
Tiga Musim Tanpa Libur
Dalam forum FT Live, Molango membeberkan realitas yang menurutnya mengkhawatirkan.
Ia mencontohkan potensi Palmer menjalani tiga musim panas berturut-turut tanpa istirahat. Setelah jendela internasional berdurasi 10 minggu, pemain hanya punya waktu beberapa hari sebelum harus terbang ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia Antarklub. Turnamen itu berakhir pertengahan Juli, dan dua pekan kemudian para pemain sudah dituntut kembali menjalani pramusim.
“Saya mengunjungi pusat latihan Chelsea ketika mereka kembali. Mereka benar-benar kelelahan,” ujar Molango.
Ia menilai industri sepak bola telah mencapai titik jenuh. Menurutnya, anggapan bahwa semakin banyak pertandingan berarti semakin baik, tidak selalu benar.
Uang Besar Tak Jamin Fisik Kebal
Molango juga menyinggung persepsi publik terhadap pemain bintang. Status jutawan, menurutnya, tidak otomatis membuat fisik pemain kebal terhadap cedera dan kelelahan.
“Orang bilang dia jutawan, benar. Tapi itu tidak memberinya paru-paru tambahan atau kaki ekstra,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampaknya bagi suporter. Harga tiket dibayar penuh, namun kualitas tontonan kerap tidak maksimal karena pemain harus “mengatur tenaga” demi bertahan sepanjang musim.