Hunian Sementara di Aceh Utara Siap Huni Sebelum Lebaran 2026

Kementerian PU memastikan hunian sementara (huntara) untuk 300 orang di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara siap huni sebelum Lebaran.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 26 Februari 2026, 11:30 WIB
Penyelesaian pembangunan puluhan hunian sementara (Huntara) di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. (Foto: Kementerian PU)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) bersama PT Waskita Karya (Persero) telah merampungkan puluhan pembangunan hunian sementara (Huntara) di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Sebanyak lima blok hunian yang dibangun di atas lahan seluas 3.643 meter persegi (m2) itu dapat ditempati hingga 300 orang.

Menteri PU Dody Hanggodo memastikan hunian tersebut siap huni sebelum Lebaran 2026. Adapun, sebanyak lima blok Huntara berkapasitas 60 Kepala Keluarga (KK), sekarang sudah mulai dihuni. Sementara blok lainnya ditargetkan selesai sebelum Idul Fitri agar para warga terdampak bisa segera pindah.

"Sehingga begitu kita selesai membangun, masyarakat bisa langsung masuk," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).

Dody juga mengapresiasi kerja Waskita Karya dalam membangun Huntara. Menurut dia, perseroan berhasil menghadirkan suasana yang sejuk di dalam ruangan.

"Fasilitasnya (sesuai) standar, lebih nyaman di dalam daripada di sini (di luar Huntara). Di sini panas, di dalam tuh saya dingin malah, nggak gerah, benar-benar nggak gerah di dalam," tutur dia.

Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita menjelaskan, tempat tinggal sementara ini dibangun dengan sistem modular memakai struktur baja ringan. Sehingga proses konstruksi berlangsung cepat dan efisien namun tetap mengutamakan kualitas dan kenyamanan. 

Tahan Cuaca Panas

Setiap unit dirancang menggunakan insulated panel untuk menahan cuaca panas serta dilengkapi ventilasi, exhaust fan, dan kipas angin guna menjaga sirkulasi udara tetap baik.

"Pembangunan Huntara merupakan wujud komitmen Perseroan untuk menghadirkan hunian sementara yang memiliki standar kelayakan dan kualitas terjaga. Kehadiran Huntara ini, kata dia, turut mendukung pemulihan layanan dasar bagi warga terdampak bencana," ujar Ermy.

Setiap blok Huntara, dilengkapi fasilitas sanitasi seperti toilet, kamar mandi, dan toilet difabel. Tersedia pula tempat pembuangan limbah agar lingkungan sekitar hunian selalu sehat dan terjaga.

"Harapan kami, hunian yang dibangun bersama Kementerian PU ini dapat menjadi tempat berkumpul kembali bersama keluarga dan menjalani aktivitas normal," imbuh Ermy.

Dapur Bersama

Penyelesaian pembangunan puluhan hunian sementara (Huntara) di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. (Foto: Kementerian PU)

Kemudian untuk memenuhi aktivitas para penghuni, disiapkan pula Dapur Bersama di Huntara Aceh Utara. Lalu jalan aksesnya dibangun dengan jarak selebar enam meter.

"Membangun Huntara bagi Waskita Karya, tidak hanya menghadirkan tempat tinggal, tapi bagaimana menciptakan harapan baru bagi masyarakat. Kami akan terus hadir menjadi bagian dari upaya pemulihan wilayah bencana bagi masyarakat terdampak," tegas dia.

 

Pemerintah Kebut Huntara untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatera jelang Puasa

Foto udara menunjukkan perumahan sementara yang dibangun oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk para korban banjir di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, provinsi Aceh, pada Minggu 22 Februari 2026, setelah banjir dan tanah longsor dahsyat melanda Sumatra, akhir tahun lalu. Sebanyak 8.562 unit hunian sementara (huntara) di Aceh telah selesai dibangun 100 persen. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Sebelumnya, Pemerintah terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh.

Menjelang bulan suci Ramadan, pembangunan huntara dipacu agar masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman, meski masih berada dalam kondisi pascabencana.

Sejumlah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) turut diterjunkan untuk membantu proses pembangunan di lapangan. Berdasarkan pantauan pada Senin (16/2/2026), personel TNI tampak aktif membangun huntara di Desa Aih Selah, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Sebagian bangunan huntara di lokasi tersebut sudah dipasangi tembok dari papan kayu dan atap seng. Sementara itu, beberapa personel terlihat memotong baja ringan untuk rangka bangunan.

Pembangunan serupa juga berlangsung di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Di wilayah ini, sebagian huntara telah memiliki dinding dan atap, sementara lainnya masih berupa rangka baja.

Pemerintah menargetkan pembangunan dapat rampung secara bertahap sebelum Ramadan, sehingga warga terdampak bisa segera menempati hunian sementara yang lebih layak.

Dilengkapi Fasilitas dan Sesuai Arahan Presiden

Untuk diketahui, sudah hampir tiga bulan berlalu sejak bencana melanda, namun pembangunan hunian sementara (Huntara) yang dijanjikan bagi para penyintas belum juga rampung. Tampak dalam foto, para pengungsi memasak makanan untuk berbuka puasa Ramadan di tenda yang menampung para korban banjir di Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada 21 Februari 2026, setelah banjir dan tanah longsor dahsyat melanda Sumatra, akhir November 2025 lalu. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Nantinya, setiap unit huntara akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas dasar, seperti akses air bersih, listrik, kamar tidur, serta kamar mandi. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan sehari-hari warga selama masa pemulihan pascabencana.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, sebelumnya menyampaikan bahwa percepatan pembangunan huntara dilakukan demi memberikan kenyamanan bagi masyarakat terdampak, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Itu sudah menjadi arah Bapak Presiden. Kita memberikan dukungan penuh kepada masyarakat, khususnya di Aceh dan Sumatera Barat yang mayoritas Muslim, agar saat Ramadan mereka bisa beribadah dengan lebih tenang, meski dalam kondisi pascabencana," ujar Dody dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).

Ia menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus hadir dalam proses pemulihan wilayah terdampak bencana, baik melalui penyediaan hunian sementara maupun program rehabilitasi jangka panjang.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan TNI, pembangunan huntara diharapkan dapat selesai tepat waktu dan benar-benar membantu warga bangkit dari dampak bencana.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya