Liputan6.com, Jakarta - Duka mendalam menyelimuti keluarga Ibu Elis (37) dan Bapak Kana di Kampung Cikupa, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong. Kebakaran hebat yang terjadi pada Rabu (25/2/2026) dinihari tepat sebelum waktu sahur, menghanguskan seluruh harta benda mereka.
Kini, keluarga dengan tiga anak kecil ini sangat membutuhkan bantuan uluran tangan.
Advertisement
Peristiwa bermula saat keluarga tersebut sedang tertidur. Ibu Elis yang tidur di kamar depan terbangun karena suara ledakan keras.
Ia sempat mengira terjadi gempa bumi, namun teriakan minta tolong suaminya dari kamar belakang menyadarkannya akan bahaya api.
"Pas ke kamar belakang, api sudah penuh sampai ke atap. Suami saya kena luka bakar sedikit karena fokus menyelamatkan anak-anak yang masih di dalam," ujar Elis dengan nada getir, pada Selasa (25/2/2026).
Ketiga anak mereka, yang masing-masing berusia 9 tahun, 5 tahun, dan bayi yang baru berumur 4 bulan, berhasil diselamatkan. Namun, keselamatan nyawa harus dibayar mahal dengan ludesnya seluruh isi rumah.
Selain dua unit sepeda motor, uang tunai milik orang lain sebesar lebih dari Rp 100 juta yang rencananya akan dibagikan, ikut menjadi abu.
Kebutuhan Mendesak: Perlengkapan Sekolah dan Bayi
Saat ini, kebutuhan yang paling mendesak adalah pakaian dan peralatan sekolah. Anak-anak Ibu Elis tidak bisa bersekolah karena semua perlengkapan mereka habis terbakar.
"Gak sekolah, gak ada baju, gak ada apa-apa. Saya sangat berharap bantuan, cuma kalau bantuan kan gak bisa diminta, tergantung yang ngasih," ungkap Elis pasrah.
Keluarga ini sekarang terpaksa mengungsi di rumah orang tua mereka karena tidak lagi memiliki tempat tinggal.
Kendala Akses Lokasi
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sukabumi, Anita Mulyani, mengonfirmasi bahwa penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik.
Ia juga menyoroti sulitnya akses menuju lokasi kejadian yang menghambat penanganan cepat.
"Lokasi kejadian memang jauh dari posko, ditambah akses jalan yang rusak dan posisi rumah di tengah pemukiman padat yang tidak bisa dijangkau kendaraan besar. Hal ini menjadi kendala utama bagi tim kami di lapangan," jelas Anita.
Pihak Damkar baru bisa melakukan pengecekan ke lokasi pada pagi harinya karena tidak adanya laporan masuk ke posko terdekat saat api berkobar.