BRIN Teliti Bioplastik dari Pati Singkong, 90% Terurai dalam Waktu 6 Hari

BRIN melakukan riset tentang bioplastik berbasis pati singkong untuk mengurangi potensi limbah plastik yang dapat terurai 60-90 persen dalam waktu enam hari.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 24 Februari 2026, 22:39 WIB
(brin.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional melakukan penelitian tentang bioplastik berbasis pati singkong yang telah mendapatkan  perhatian cukup besar di Indonesia karena kelimpahannya di alam, efektivitas biaya, dan sifat ramah lingkungan.

Inovasi ini sebagai jawaban atas tantangan limbah yang banyak dihasilkan dari sampah plastik yang sulit terurai.

Plastik sebagai salah satu material yang paling banyak digunakan oleh manusia dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam skala industri maupun penggunaan rumah tangga. 

Namun, plastik berbasis minyak bumi menunjukkan ketahanan yang ekstrem terhadap degradasi alami, sehingga mengakibatkan penumpukan limbah yang substansial.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran global terkait konsekuensi lingkungan akibat polusi plastik. Oleh karena itu, upaya penelitian saat ini difokuskan pada identifikasi material alternatif seperti bioplastik yang menawarkan keberlanjutan yang lebih baik.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Rina Wahyuningsih mengatakan, bioplastik adalah material berkelanjutan yang sering dibuat dari polimer alami, seperti pati, selulosa, kitosan, serta protein dan lemak, semuanya bersumber dari bahan terbarukan.

“Bioplastik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme, sehingga tidak meninggalkan racun berbahaya di lingkungan karena bahan-bahan alaminya,” ujar Rina, dilansir dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa 24 Februari 2026.

Menurutnya, bioplastik dapat terurai di tanah hingga 60-90 persen dalam waktu enam hari, tidak seperti plastik konvensional yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai. 

Namun, bioplastik menunjukkan sifat mekanik dan ketahanan air yang buruk karena sifat hidrofilik pati yang mengganggu stabilitasnya, sehingga membutuhkan bahan plasticizer untuk menjamin ketahanannya.

“Oleh karena itu, penambahan plasticizer seperti gelatin diperlukan untuk meningkatkan stabilitas dan sifat mekaniknya,” terang Rina.

Manfaat Kandungan Gelatin dalam Bioplastik

Menurut Rina, gelatin berasal dari kolagen terhidrolisis yang ditemukan dalam jaringan ikat hewan, sehingga gelatin memiliki sifat hidrokoloid. 

Sifat ini memungkinkan gelatin untuk membentuk lembaran tipis dan elastis, menjadikannya bahan yang ideal untuk memproduksi bioplastik.

Kini, berbagai bahan jenis gelatin digunakan sebagai plasticizer dalam bioplastik yang memengaruhi sifat fisik dan mekaniknya.

“Di Indonesia, khususnya membran cangkang telur ayam kampung (INCES) masih banyak tersedia dan belum dieksplorasi sebagai sumber gelatin untuk produksi bioplastik. INCES mengandung 31% kolagen, dan ini sangat berpotensi sebagai sumber gelatin,” kata Rina.

Penambahan gelatin yang berasal dari membran cangkang telur ayam kampung Indonesia menjadi salah satu temuan dari kajian ini dan metode baru untuk meningkatkan sifat fisik bioplastik pati singkong. 

Bioplastik yang diperkaya dengan 2-4 persen gelatin ini menunjukkan kekuatan pecah yang rendah, kelarutan air tinggi, dan dapat terdegradasi di tanah dalam waktu lima hari. 

Kelebihan dan Kekurangan Bioplastik

Dengan berbahan dasar alami, bioplastik memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh plastik konvensional.

Keunggulan utama bioplastik yaitu kemampuannya untuk terurai secara alami dan tidak meninggalkan residu yang berbahaya.

Bioplastik juga dapat mengurangi emisi karbon serta mendukung gaya hidup zero waste.

Sementara itu, dari sisi konsumen, produk yang menggunakan bioplastik umumnya lebih digemari karena ramah lingkungan dan berkontribusi pada daur ulang yang lebih mudah.

Namun, tantangan bagi pelaku industri, bioplastik memiliki biaya produksi yang lebih tinggi serta keterbatasan dalam ketahanan panas, kelembaban, dan isolasi dibandingkan plastik konvensional.

Oleh karena itu, penggunaan bahan ini lebih disarankan untuk produk-produk sekali pakai, terutama bagi produk makanan, minuman, atau produk organik.

Selain itu, bioplastik juga menjadi bagian dari gaya hidup menuju circular economy untuk mengurangi sampah plastik dan menciptakan rantai produksi plastik tertutup yang menawarkan solusi jangka panjang bagi keberlanjutan bagi dunia kemasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya