Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto kapitalisasi pasar terbesar bitcoin (BTC) masih tertekan pada perdagangan Selasa siang (24/2/2026) pukul 12:45 WIB. Bahkan harga bitcoin sempat turun 5%.
Mengutip data coinmarketcap.com, harga bitcoin melemah 2,65% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin terperosok 7,17%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 63.372,83 atau Rp 1,06 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.840).
Advertisement
Selain itu Ethereum (ETH) terpangkas 1,66% selama 24 jam terakhir. Sedangkan selama sepekan terakhir, harga bitcoin melemah 7,42% dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga Ethereum berada di posisi USD 1.834,22 atau Rp 30,87 juta.
Mengutip CNBC, harga Bitcoin anjlok lebih dari 5% hingga di bawah USD 63.000 pada Selasa karena investor terus bergulat dengan meningkatnya ketegangan tarif dan risiko geopolitik yang lebih luas. Mata uang kripto terbesar di dunia ini jatuh serendah USD 62.964,64 di tengah tekanan investor untuk menjauhi aset berisiko.
"Penurunan harga bitcoin lebih terlihat seperti pengaturan ulang sentimen risiko klasik daripada guncangan khusus kripto,” ujar Head of Client Investment Solution di Invesco, Christopher Hamilton.
Hamilton menambahkan, penurunan ini kemungkinan merupakan cerminan dari “pengurangan risiko taktis” daripada penarikan struktural.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan menentukan “dalam 10 hari ke depan” apakah akan melancarkan serangan terhadap Iran di tengah penolakannya terhadap perjanjian nuklir baru.
Ketegangan sejak itu meningkat, dengan Washington terus mengerahkan aset militer di seluruh Timur Tengah.
Bitcoin Alami Aksi Jual
Bitcoin telah mengalami aksi jual tajam sejak Oktober tahun lalu ketika melampaui USD 125.000, dengan penurunan yang berlanjut hingga tahun baru. Mata uang kripto terbesar di dunia ini turun 27% sejauh tahun ini dan telah kehilangan 50% sejak puncaknya di bulan Oktober.
“Poin yang lebih penting adalah Bitcoin tetap sangat sensitif terhadap kondisi likuiditas global. Jika pasar menafsirkan kebijakan perdagangan sebagai pengetatan kondisi keuangan, kripto akan merasakannya terlebih dahulu,” ujar Ahli strategi investasi di Global X Australia, Billy Leung.
Sementara itu, harga emas spot turun sekitar 1% menjadi USD.171,87 per ons pada Selasa, sementara Ether, mata uang kripto terpopuler kedua, kehilangan lebih dari 1% menjadi USD 1.831,52.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Robert Kiyosaki Membeli Bitcoin Lagi di Harga Rp 1,12 Miliar
Sebelumnya, penulis buku Rich Dad Poor Dad Robert Kiyosaki mengumumkan pada Sabtu, 21 Februari 2026 kembali membeli bitcoin (BTC) senilai USD 67.000 atau Rp 1,12 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.860). Ia membeli bitcoin meski sedang menggambarkan kripto itu sedang jatuh.
Ia menggambarkan pembelian itu sebagai taruhan terhadap potensi keruntuhan dolar Amerika Serikat dan pencapaian pasokan bitcoin yang akan datang. Langkah ini sesuai dengan pendiriannya yang sudah lama mengabaikan volatilitas kripto sambil membangun posisi di bitcoin (BTC), Ethereum (ETH) dan aset lainnya sebagai perlindungan dari dinamika utang AS yang memburuk.
Dalam sebuah unggahan di platform X, ia mengaitkan pembelian itu dengan dua katalis. Pertama, keyakinan penurunan dolar AS yang didorong oleh utang dapat memicu penciptaan uang besar-besaran dan jaringan itu mendekati bitcoin ke-21 juta yang ditambang. Demikian mengutip Yahoo Finance, Minggu (22/2/2026).
Dalam unggahan yang sama, Kiyosaki menilai gelombang penerbitan mata uang baru akan mengikuti krisis dolar AS. Ia juga menyebut Federal Reserve sebagai “The Marxist Fed” dan menggambarkan penciptaan uang di masa depan sebagai dolar AS palsu.