Keputusan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak hanya berpengaruh pada melonjaknya laju inflasi perekonomian nasional. Semakin mahalnya harga premium dan solar ikut berdampak pada industri asuransi yang terpaksa merevisi target pertumbuhannya.
"Pertumbuhan asuransi jiwa sebelum ada kenaikan BBM diprediksi sebesar 20%,namun setelah itu maksimal 15 persen lah,"ungkap Direktur Biro Riset InfoBank, Eko B Supriyanto kepada media di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (2/7/2013)
Tak hanya industri asuransi jiwa, kenaikan harga BBM juga bakal memukul industri asuransi umum yang diperkirakan bakal mengalami dampak lebih parah. "Sehingga yang terkait dengan bisnis bisa tumbuh 10% saja sudah alhamdulillah dari perkiraan sebelumnya 18%," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pelemahan ekonomi Indonesia terutama di sektor pasar modal ikut mengganggu kinerja asuransi dalam kurun waktu belakangan ini. Tercatat sudah banyak perusahaan asuransi yang turut mengalami kerugian karena hal tersebut.
Eko berharap regulasi yang ditetapkan pemerintah dapat membantu mengurangi pelemahan kinerja asuransi yang secara tidak langsung bisa berdampak bagi para pemegang premi asuransi.
"Kami berharap regulasi itu bisa mengawasi lebih ketat karena ketika ekonomi slow down akan terjadi yang aneh-aneh lagi, karena investasi asuransi juga sebagian di pasar saham,"tegas Eko.
Terlepas dari berbagai kendala yang masih ada, peluang perkembangan industri asuransi di jangka panjang masih sangat terbuka lebar mengingat pasar indonesia yang masih luas.
"Tapi masih ada peluang, yang harus dilakukan adalah pertumbuhan kelas menegah baru sekitar 30-40%, namun masyarakat ini kesadaran asuransi sepenuhnya belum terlihat, bagaimanapun juga asuransi ini akan menjadi bahan modal dana jangka panjang mereka. Justru inilah peluang kita," pungkas Eko. (Yas/Shd)
"Pertumbuhan asuransi jiwa sebelum ada kenaikan BBM diprediksi sebesar 20%,namun setelah itu maksimal 15 persen lah,"ungkap Direktur Biro Riset InfoBank, Eko B Supriyanto kepada media di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (2/7/2013)
Tak hanya industri asuransi jiwa, kenaikan harga BBM juga bakal memukul industri asuransi umum yang diperkirakan bakal mengalami dampak lebih parah. "Sehingga yang terkait dengan bisnis bisa tumbuh 10% saja sudah alhamdulillah dari perkiraan sebelumnya 18%," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pelemahan ekonomi Indonesia terutama di sektor pasar modal ikut mengganggu kinerja asuransi dalam kurun waktu belakangan ini. Tercatat sudah banyak perusahaan asuransi yang turut mengalami kerugian karena hal tersebut.
Eko berharap regulasi yang ditetapkan pemerintah dapat membantu mengurangi pelemahan kinerja asuransi yang secara tidak langsung bisa berdampak bagi para pemegang premi asuransi.
"Kami berharap regulasi itu bisa mengawasi lebih ketat karena ketika ekonomi slow down akan terjadi yang aneh-aneh lagi, karena investasi asuransi juga sebagian di pasar saham,"tegas Eko.
Terlepas dari berbagai kendala yang masih ada, peluang perkembangan industri asuransi di jangka panjang masih sangat terbuka lebar mengingat pasar indonesia yang masih luas.
"Tapi masih ada peluang, yang harus dilakukan adalah pertumbuhan kelas menegah baru sekitar 30-40%, namun masyarakat ini kesadaran asuransi sepenuhnya belum terlihat, bagaimanapun juga asuransi ini akan menjadi bahan modal dana jangka panjang mereka. Justru inilah peluang kita," pungkas Eko. (Yas/Shd)