Produk Garmen Bebas Tarif, Ekspor Produk Pakai Rajutan Indonesia ke AS Bakal Melonjak

Apindo menyatakan, melalui tarif rendah dan akses pasar meningkat, produk sektor tekstil hingga komoditas punya ruang perluas ekspor.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 22 Februari 2026, 04:00 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani menuturkan, mencatat, 61% ekspor pakaian dan aksesori pakaian rajutan Indonesia dikirim ke AS.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan ekspor pakaian dan aksesori pakaian rajutan ke Amerika Serikat (AS) akan meningkat. Menyusul ekspor produk tekstil dan garmen yang bebas bea masuk ke AS meski dengan syarat.

Dia mencatat, 61% ekspor pakaian dan aksesori pakaian rajutan Indonesia dikirim ke AS. Penyesuaian tarif jadi 0% membawa angin segar tambahan.

"Dengan tarif 0%, risiko kontraksi permintaan akibat peningkatan cost dapat ditekan, sehingga utilisasi kapasitas produksi dan perencanaan investasi menjadi lebih terjaga," ungkap Shinta, dihubungi Liputan6.com, Sabtu (21/2/2026).

Posisi Indonesia pada kategori ekspor ini memang masih kalah dengan beberapa negara lain. China misalnya yang menguasai 22% total impor pakaian dan aksesori pakaian rajutan AS. Lalu, Vietnam 18%, Kamboja 5,9%, Bangladesh 5,5 %, dan India 5,1 persen. Indonesia berada di posisi 4,9% dari total impor AS.

"Dalam konteks ini, penerapan tarif 0 persen untuk produk apparel Indonesia menjadi faktor pembeda yang signifikan. Namun demikian, perlu dicermati bahwa beberapa negara seperti Bangladesh juga memperoleh fasilitas tarif preferensial untuk produk tekstil. Artinya, meskipun Indonesia memiliki keunggulan tarif, persaingan tetap ditentukan oleh faktor domestik seperti efisiensi biaya berusaha, dan lain-lain," tutur Shinta.

Sektor Ini Bakal Meningkat

Shinta melanjutkan, ada beberapa sektor yang cukup kuat memegang pasar AS. Melalui kesepakatan tarif, beberapa sektor bisa semakin memaksimalkan potensi pasar konsumennya.

"Ini mencakup tekstil dan produk tekstil, alas kaki, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komoditas unggulan seperti minyak sawit, kakao, rempah-rempah, dan karet," kata dia.

"Dengan tarif yang lebih rendah dan peningkatan market access certainty, sektor-sektor tersebut memiliki ruang untuk memperluas volume ekspor, memperdalam penetrasi pasar, serta meningkatkan posisi dalam rantai nilai global," Shinta menambahkan.

 

Minyak Sawit-Tekstil RI Bebas Tarif

Seorang pekerja sedang menebang pohon di perkebunan kelapa sawit di Sampoiniet, provinsi Aceh (7/3/2021). Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang memiliki produksi terbesar di Kabupaten Aceh. (AFP Photo/Chaideer Mahyuddin)

Sebelumnya, Sejumlah komoditas pertanian hingga produk manufaktur asal Indonesia tak akan dikenakam tarif bea masuk ke Amerika Serikat (AS). Ada minyak kelapa sawit, kakao, hingga tekstil dan garmen RI yang dibebaskan dari tarif resiprokal AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, hal tersebut tertuang dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Total ada, 1.819 pos tarif yang diatur dalam beleid tersebut, minyak sawit, kopi hingga kakao dibebaskan dari tarif.

"Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen," ungkap Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

 

Tekstil Bebas Tarif dengan Syarat

Aktivitas pekerja di PT Pan Brother,Tangerang, Banten, Selasa (13/10/2015). Industri tekstil di dalam negeri terus menggeliat. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan produksi dan aliran investasi di dalam dan luar negeri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain komoditas tadi, ada produk lainnya yang juga mendapatkan pembebasan tarif dengan skema berbeda. Yakni, produk tekstil dan garmen asal Indonesia akan mendapat tarif 0 persen dengan kuota tertentu.

"Khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0 persen dengan mekanisme tarif rate quota atau TRQ," ujarnya.

"Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," sambung Menko Airlangga Hartarto.

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya