Dubes AS Picu Kehebohan Usai Klaim Israel Berhak atas Sebagian Besar Timur Tengah

Seperti apa pernyataan Dubes AS yang mengundang kecaman dari negara-negara muslim dan dunia Arab?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Februari 2026, 08:00 WIB
Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel Mike Huckabee di Yerusalem pada 20 Agustus 2025. (Dok. AP/Ohad Zwigenberg)

Liputan6.com, Tel Aviv - Negara-negara Arab dan muslim pada Sabtu (21/2/2026) mengecam keras pernyataan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel Mike Huckabee, yang menyebut Israel memiliki hak atas sebagian besar wilayah Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Huckabee dalam wawancara dengan komentator konservatif Tucker Carlson yang ditayangkan pada Jumat (20/2). Dalam wawancara itu, Carlson mengatakan bahwa menurut Alkitab, keturunan Abraham akan menerima tanah yang saat ini pada dasarnya mencakup hampir seluruh kawasan Timur Tengah. Carlson kemudian menanyakan kepada Huckabee apakah Israel memiliki hak atas wilayah tersebut.

Huckabee seperti dikutip Associated Press menjawab, "Tidak masalah jika mereka mengambil semuanya."

Namun, ia juga menambahkan bahwa Israel tidak sedang berupaya memperluas wilayahnya dan memiliki hak atas keamanan di wilayah yang secara sah dikuasainya.

Komentar tersebut segera memicu reaksi keras dari Mesir dan Yordania, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta Liga Arab. Dalam pernyataan terpisah, mereka menyebut komentar itu sebagai pernyataan yang ekstrem, provokatif, dan tidak sejalan dengan posisi resmi AS.

Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut pernyataan Huckabee sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, serta menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas wilayah Palestina yang diduduki maupun wilayah Arab lainnya.

Liga Arab menyatakan bahwa pernyataan tersebut bersifat ekstrem dan tidak memiliki dasar yang kuat, sehingga hanya akan memperkeruh situasi serta memicu emosi keagamaan dan sentimen nasional.   

Huckabee diketahui sejak lama menentang gagasan solusi dua negara bagi Israel dan Palestina. Dalam sebuah wawancara tahun lalu, ia menyatakan tidak percaya pada penggunaan istilah "Palestina" untuk menyebut keturunan Arab dari penduduk yang pernah tinggal di wilayah Palestina di bawah kendali Inggris.

Israel dan Perebutan Wilayah yang Terus Berlanjut

Namun, Mesir dibatasi oleh perjanjian damai tahun 1979 dengan Israel mengenai jumlah pasukan yang diizinkan untuk ditempatkan di Semenanjung Sinai. (Khaled DESOUKI / AFP)

Sejak dimulainya perang di Jalur Gaza, Israel memperluas penguasaannya atas sejumlah wilayah.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku saat ini, Israel telah menarik pasukannya ke zona penyangga, tetapi masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza. Pasukan Israel seharusnya melakukan penarikan lebih lanjut, meskipun kesepakatan tersebut tidak menetapkan tenggat waktu yang jelas.

Setelah Presiden Suriah Bashar Assad digulingkan pada akhir 2024, militer Israel mengambil alih zona penyangga demiliterisasi di Suriah yang dibentuk sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata 1974 antara kedua negara. Israel menyatakan bahwa langkah tersebut bersifat sementara dan dimaksudkan untuk mengamankan perbatasannya.

Selain itu, Israel juga masih menduduki lima pos di puncak bukit di wilayah Lebanon setelah perang singkatnya dengan Hizbullah pada 2024.  

Sejak berdirinya pada 1948, Israel belum memiliki batas wilayah yang sepenuhnya diakui secara internasional. Perbatasannya dengan negara-negara Arab di sekitarnya berubah akibat perang, aneksasi, gencatan senjata, dan perjanjian damai.

Dalam Perang Enam Hari tahun 1967, Israel merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania, Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir, serta Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Israel kemudian menarik diri dari Semenanjung Sinai sebagai bagian dari perjanjian damai dengan Mesir setelah perang Timur Tengah 1973. Israel juga sempat secara sepihak menarik diri dari Gaza pada 2005.

Sementara itu, dalam beberapa bulan terakhir, Israel berupaya memperdalam kontrolnya atas Tepi Barat yang diduduki. Israel memperluas pembangunan permukiman Yahudi, melegalkan sejumlah pos permukiman liar, serta melakukan perubahan birokrasi signifikan terhadap kebijakannya di wilayah tersebut.

Presiden AS Donald Trump sendiri telah menyatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan Israel menganeksasi Tepi Barat dan memberikan jaminan kuat bahwa ia akan memblokir langkah tersebut.

Selama beberapa dekade, warga Palestina menuntut pembentukan negara merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Tuntutan ini mendapat dukungan luas dari komunitas internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya