Liputan6.com, Jakarta - Presiden Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed wilayah Minneapolis, Neel Kashkari, kembali melontarkan kritik keras terhadap aset kripto. Ia menyebut kripto sebagai sesuatu yang tidak berguna dan berpotensi memberi dampak negatif terhadap sistem keuangan tradisional.
Dalam sebuah diskusi panel, Kashkari menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak struktural stablecoin terhadap industri perbankan. Menurutnya, keberadaan stablecoin bisa membuat bank semakin enggan menyalurkan kredit.
Advertisement
“Saya sangat berhati-hati terhadap stablecoin dan berbagai instrumen sejenis, karena saya pikir hal itu akan memberi tekanan pada perekonomian, sebab bank akan semakin sedikit menyalurkan pinjaman,” ujarnya, dikutip dari U Today, Jumat (20/2/2026).
Sebagai Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Kashkari menilai sistem keuangan saat ini masih jauh lebih stabil dibandingkan sistem berbasis kripto.
Ia juga mempertanyakan klaim para pendukung kripto yang menyebut teknologi ini mampu menyelesaikan berbagai persoalan keuangan, khususnya di dalam negeri.
“Ketika saya mendesak mereka soal apa sebenarnya manfaatnya, mereka dengan cepat mengakui bahwa ini tidak berguna di Amerika,” kata Kashkari.
Menurutnya, kripto lebih sering diklaim bermanfaat untuk transaksi lintas negara, bukan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Ilusi Transfer Uang Lintas Negara
Kashkari mengakui bahwa kripto kerap dipromosikan sebagai solusi untuk pengiriman uang internasional. Namun, ia menilai manfaat tersebut masih bersifat semu.
“Kripto dianggap berguna untuk mengirim uang ke negara lain atau bagi konsumen di luar negeri,” ujarnya.
Untuk memperjelas pandangannya, Kashkari menceritakan pengalaman pribadinya. Ia menyebut sang istri lahir di Filipina dan keluarganya masih tinggal di sana.
“Jika saya ingin mengirim uang ke mertua saya untuk membeli kebutuhan sehari-hari, mereka bilang, ‘Wah, mahal sekali kalau pakai cara lama. Dengan kripto ini, bisa langsung terkirim,’” tuturnya.
Namun, menurut Kashkari, masalah utama justru muncul ketika penerima harus mengubah aset digital tersebut menjadi mata uang resmi di negaranya.
Proses konversi inilah yang menimbulkan biaya dan hambatan tambahan, sehingga mengurangi efisiensi yang selama ini diklaim oleh industri kripto.
Ia menilai, selama kripto masih harus dikonversi ke mata uang fiat, manfaatnya tetap terbatas.
“Di situlah letak masalahnya. Gesekan tetap ada ketika aset digital harus diubah kembali menjadi uang yang bisa digunakan,” ujarnya.
Tantang Pendukung Kripto dan Ingatkan Soal “Omong Kosong”
Ketika para pendukung kripto berargumen bahwa ke depan pedagang akan menerima pembayaran langsung dalam aset digital, Kashkari menilai pandangan tersebut terlalu idealistis.
“Mereka bilang, ‘Kalau pedagang juga pakai ini, semuanya akan lancar.’ Artinya, mereka membayangkan seluruh dunia menggunakan mata uang dan platform pembayaran yang sama,” jelasnya.
Menurut Kashkari, anggapan tersebut tidak realistis. Ia menegaskan bahwa setiap negara memiliki kebijakan moneter masing-masing yang tidak akan mudah ditinggalkan.
“Negara-negara lain tidak akan meninggalkan kebijakan moneternya sendiri,” tegasnya.
Karena itu, Kashkari mendorong regulator, pembuat kebijakan, dan masyarakat untuk lebih kritis terhadap klaim industri kripto.
“Ajukan pertanyaan paling mendasar soal kripto dan stablecoin. Jangan puas dengan jawaban yang penuh istilah rumit tapi kosong,” katanya.
Ia menambahkan, selama ini ia belum menemukan penjelasan yang benar-benar meyakinkan.
“Ketika saya minta penjelasan detail, tidak ada substansinya,” ujar Kashkari.
Sikap skeptis ini bukan hal baru. Pada 2018, ia pernah menyebut pasar kripto sebagai “lelucon”.