Danamon Siap Masuk Pay Later? Begini Jawaban Manajemen

PT Bank Danamon Tbk (BDMN) menanggapi peluang untuk masuk ke bisnis paylater.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 19 Februari 2026, 17:00 WIB
PT Bank Danamon Indonesia Tbk membuka peluang untuk masuk ke bisnis pay later guna menjaring nasabah ritel.(Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Danamon Indonesia Tbk membuka peluang untuk masuk ke bisnis pay later guna menjaring nasabah ritel. Meski minat tersebut sudah masuk dalam rencana bisnis perseroan, hingga kini manajemen masih mengkaji model bisnis yang paling tepat untuk dijalankan.

"Tentunya bisnis pay later selalu ada dalam bisnis plan kami. Tapi hingga saat ini bahwa kami masih mencari bentuk bagaimana kita pay later ini. Sebab pay later ini adalah kredit konsumsi," kata Wakil Direktur Utama Bank Danamon, Honggo Widjojo Kangmasto, saat Konferensi Pers Virtual Paparan Kinerja 2025, Kamis (19/2/2026).

Ia mengatakan bahwa transformasi Danamon sebagai bank konvensional dengan kapabilitas digital menjadi landasan dalam mempertimbangkan ekspansi ke segmen tersebut.

"Tujuan atau misi dari Bank Danamon ini kan akan menjadi bank konvensional dengan digital capabilities," ujarnya.

Menurutnya, layanan pay later pada dasarnya merupakan bagian dari kredit konsumsi, sehingga implementasinya perlu disesuaikan dengan strategi dan profil risiko perseroan.

Oleh karena itu, Danamon belum menentukan bentuk penyaluran produk tersebut. Pasalnya, skema pay later memiliki berbagai model, baik yang dijalankan secara langsung oleh bank maupun melalui kemitraan strategis.

"Jadi, jawabannya secara ringkas, minat selalu ada. Tapi hingga saat ini kami masih mengkaji kelayakan dari bisnis pay later ini," ujarnya.

Pertimbangkan Kolaborasi Grup dan MUFG

Dalam penjajakan tersebut, Danamon mempertimbangkan sejumlah opsi. Salah satunya adalah menyalurkan pembiayaan pay later melalui entitas dalam grup, yakni Home Credit Indonesia.

Selain itu, Danamon juga membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan rintisan yang berada dalam ekosistem investasi MUFG Group di Indonesia. Skema kemitraan dinilai dapat mempercepat penetrasi pasar tanpa harus membangun sistem dari awal.

"Apakah kita akan salurkan melalui grup kami, yaitu Home Credit Indonesia. Apakah akan kita salurkan bekerjasama, berkolaborasi dengan investment dari MUFG Group yang ada di beberapa startup company di Indonesia. Kami lagi mencari bentuk," pungkasnya.

 

Bank Danamon (BDMN) Catat Laba Bersih Rp 2,8 Triliun pada Kuartal III 2025

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) (Foto: Bank Danamon Indonesia)

Sebelumnya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), anggota grup jasa keuangan global MUFG, melaporkan kinerja keuangan positif untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2025. BDMN mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 2,8 triliun atau tumbuh 21 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Bank Danamon, Daisuke Ejima, mengatakan capaian ini merupakan hasil dari komitmen perusahaan dalam membangun bisnis dengan pertumbuhan berkelanjutan dan prinsip kehati-hatian.

“Melalui strategi Tumbuh Bersama sebagai Satu Grup Finansial, kami terus berupaya menjadi penyedia solusi finansial terbaik bagi nasabah bersama MUFG dan mitra strategis,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/11/2025).

Kinerja kuat ini ditopang oleh pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana. Total kredit dan trade finance tercatat Rp 196,2 triliun atau naik 5 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 170,3 triliun, tumbuh 14 persen. Pendapatan operasional konsolidasian mencapai Rp 14,4 triliun, naik 1 persen dari tahun lalu.

 

 

Kualitas Aset

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) (Foto: Bank Danamon Indonesia)

Bank Danamon juga mencatat peningkatan efisiensi dan kualitas aset. Dengan penurunan biaya kredit sebesar 18 persen, laba bersih berhasil tumbuh signifikan. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto membaik menjadi 1,8 persen, sementara rasio cakupan NPL naik menjadi 274,9 persen.

Dari sisi permodalan, Danamon mencatat rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 26,6 persen, menunjukkan posisi keuangan yang kuat. Rasio kecukupan likuiditas juga terjaga di 145,7 persen, dan net stable funding ratio (NSFR) di 123,2 persen.

Pertumbuhan bisnis juga tercermin dari kolaborasi dengan Adira Finance di sektor otomotif. Pembiayaan sinergis mencapai Rp 1,5 triliun, naik 57 persen secara tahunan, ditopang berbagai program promosi dan acara bagi nasabah.

 Digitalisasi

Pertumbuhan juga terlihat pada ekosistem Haji dan Umrah. Unit Usaha Syariah Danamon mencatat peningkatan penghimpunan dana sebesar 109 persen hingga akhir September 2025, dengan jumlah rekening naik 52 persen. Bank juga memperkuat kerja sama dengan BPKH dan PP Muhammadiyah untuk memperluas jangkauan layanan keuangan syariah.

Sementara itu, aplikasi digital D-Bank PRO terus mencatat pertumbuhan kuat. Jumlah pengguna aktif naik 7 persen, volume transaksi meningkat 30 persen, dan frekuensi transaksi melonjak 35 persen secara tahunan. Fitur terbaru seperti QRIS lintas negara di Singapura, Malaysia, Thailand, dan Jepang semakin memperkuat posisi Danamon sebagai bank digital inovatif.

Dengan hasil ini, Danamon menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan keuangan yang inklusif, aman, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya