Tradisi Ramadan di Palestina: Ibadah, Kebersamaan, dan Ketahanan Budaya

Tradisi apa saja yang selalu ada di Palestina saat Ramadan tiba?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 21 Februari 2026, 07:10 WIB
Sebagai informasi, ini merupakan Ramadan pertama sejak kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober 2025. Tampak dalam foto, warga Palestina berkumpul untuk berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Yayasan IHH Turki, di tengah reruntuhan bangunan yang hancur di Kota Gaza pada Rabu 18 Februari 2026. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Liputan6.com, Tepi Barat - Bulan Ramadan merupakan momen yang sakral bagi Muslim di seluruh dunia, termasuk di Palestina. Di tengah situasi politik dan kemanusiaan yang kompleks, warga Palestina tetap mempertahankan tradisi.

Ramadan dengan cara yang khas—menggabungkan ibadah, gotong-royong sosial, serta budaya kuliner yang kuat. Ramadan di Palestina bukan hanya soal berpuasa, tetapi juga refleksi nilai kebersamaan, solidaritas, serta identitas budaya yang mendalam.

Begitu bulan Ramadan tiba, suara adhan berkumandang di seluruh penjuru kota dan kampung. Ini menandai dimulainya puasa sehari penuh, yang diikuti dengan doa, dzikir, dan pembacaan Al-Qur’an. Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan adalah kehadiran musaharati—para penabuh genderang yang berjalan perlahan di malam hari untuk membangunkan masyarakat agar sahur, sebelum adhan Subuh berkumandang. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman Ramadan di Palestina.

Selama malam, banyak warga melakukan salat Tarawih secara berjamaah di masjid-masjid setempat, termasuk upaya untuk melaksanakannya di kompleks Masjid al-Aqsa, meskipun akses sering kali dibatasi karena situasi di Yerusalem.

Di Palestina, iftar—momen berbuka puasa saat adzan Maghrib terdengar—adalah waktu bagi keluarga dan tetangga berkumpul. Makanan berbuka dimulai dengan kurma dan air, mengikuti sunnah Nabi Muhammad, diikuti oleh beragam hidangan khas lokal. Banyak keluarga mengundang kerabat dan teman ke rumah mereka untuk berbuka bersama, mempererat hubungan sosial dan saling berbagi.

Salah satu kebiasaan unik yang dikenal adalah “fakdat Ramadan”, dimana keluarga mengunjungi rumah anggota keluarga yang sudah menikah untuk berbuka bersama dan membawa hidangan, makanan pokok, serta kue-kue sebagai hadiah dan bentuk kasih sayang keluarga.

Tradisi ini bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga simbol solidaritas dan kepedulian sosial yang kuat di tengah tantangan hidup sehari-hari. Bahkan pada saat konflik atau krisis kemanusiaan, kegiatan berbuka bersama tetap dijaga melalui bantuan komunitas dan lembaga amal yang menyediakan makanan untuk keluarga kurang mampu.

 

Kuliner Khas Ramadan Palestina

Lentera Ramadan kecil dan lampu hias yang terpasang di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan puing, membawa sukacita dan kelegaan saat waktu berbuka puasa tiba. Tampak dalam foto, warga Palestina berkumpul untuk berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Yayasan IHH Turki, di tengah reruntuhan bangunan yang hancur di Kota Gaza pada Rabu 18 Februari 2026. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Ramadan di Palestina juga identik dengan kekayaan kuliner. Setiap wilayah memiliki makanan khas yang biasanya disiapkan khusus saat Ramadan, termasuk:

Maqluba – hidangan nasi berlapis dengan sayuran dan daging, disajikan dengan cara dibalik saat hendak dinikmati.

Sumaghiyyeh – semur khas Gaza dengan rempah sumac dan kacang garbanzo.

Musakhan – ayam panggang dengan bawang karamel dan sumac di atas roti taboon.

Qatayef – pencuci mulut manis yang populer disajikan saat berbuka puasa.

Qidreh – hidangan nasi khas wilayah tertentu yang juga populer saat Ramadan.

Selain itu, minuman tradisional dan manisan lokal seperti kunafa dan ma’amoul juga banyak ditemukan di pasar Ramadan yang ramai menjelang buka puasa.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya