Klaim Pakistan Soal Lonjakan Ekspor JF-17 Dipertanyakan, Kapasitas Produksi Jadi Sorotan

Pakistan dilaporkan telah memproduksi kurang dari 20 unit JF-17 per tahun.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 17 Februari 2026, 11:27 WIB
Kedutaan besar Pakistan di Indonesia merayakan Hari Nasional Pengibaran Bendera Pakistan, Sabtu (24/03/2024). (Liputan6.com/Fitria Putri Jalinda).

Liputan6.com, Islamabad - Pakistan memproyeksikan lonjakan permintaan global untuk jet tempur andalannya, JF-17 Thunder. Sejumlah pejabat menyebut sedikitnya lima negara menunjukkan minat dalam beberapa bulan terakhir, memunculkan narasi bahwa pesawat tempur berbiaya “terjangkau” itu siap mengguncang pasar global.

Namun, data produksi dan realitas industri menunjukkan gambaran berbeda: minat belum tentu berujung kontrak, dan kontrak tidak serta-merta berarti pengiriman, dikutip dari laman directus, Rabu (18/2/2026).

Sejumlah negara seperti Irak hingga Bangladesh dilaporkan menyatakan ketertarikan. Arab Saudi dan Libya juga disebut tengah menjajaki opsi. Kantor berita Reuters bahkan menilai perkembangan ini sebagai potensi terobosan ekspor pertahanan Pakistan.

Akan tetapi, kapasitas produksi menjadi kendala mendasar. Pakistan memproduksi kurang dari 20 unit JF-17 per tahun. Hampir seluruhnya diserap oleh Angkatan Udara Pakistan (PAF). Kompleks Aeronautika Pakistan di Kamra rata-rata hanya merakit 16–18 pesawat setiap tahun—angka yang relatif stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Tidak ada indikasi kapasitas cadangan signifikan maupun investasi besar untuk ekspansi lini produksi.

Di sisi lain, PAF masih harus mengganti lebih dari 250 jet tempur lama jenis Mirage dan F-7. Rencana modernisasi armada sendiri bertumpu pada platform buatan Tiongkok seperti JF-17, J-10C, hingga FC-31 di masa depan. Dengan kebutuhan domestik sebesar itu, prioritas ekspor berpotensi berbenturan dengan agenda pengadaan dalam negeri.

Saat ini saja, sekitar 45 unit ekspor masih dalam antrean pengiriman. Azerbaijan tercatat memesan 40 unit, sementara Nigeria dan Myanmar belum menerima seluruh pesanan mereka. Dengan laju produksi sekarang, kontrak-kontrak tersebut diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dituntaskan.

Meski demikian, muncul klaim tambahan: masing-masing 16 unit untuk Bangladesh dan Libya, hingga potensi kesepakatan hampir US$2 miliar untuk 50 unit dengan Arab Saudi. Indonesia juga disebut mempertimbangkan sekitar 40 unit. Jika seluruh proyeksi itu dijumlahkan, jurang antara kapasitas dan ambisi menjadi nyata.

 

Angka Realistis

Secara realistis, Pakistan hanya mampu mengirimkan sekitar 15–18 jet per tahun—itu pun jika tidak mengorbankan kebutuhan PAF. Setiap kontrak baru berisiko memperpanjang waktu tunggu atau mengalihkan alokasi dari armada nasional.

Aspek pendanaan turut menjadi persoalan. Ekspansi manufaktur membutuhkan investasi besar untuk lini produksi baru dan penguatan rantai pasok. Dalam kondisi fiskal Pakistan yang tertekan, pendanaan negara maupun investasi asing untuk memperbesar kapasitas belum terlihat.

Program JF-17 sendiri merupakan proyek bersama Pakistan–Tiongkok. Badan pesawat dan perakitan akhir dilakukan di Pakistan, sementara avionik dan sejumlah sistem utama dipasok Beijing. Setiap ekspor memerlukan persetujuan kedua pihak, sementara pembagian keuntungan dan prioritas produksi tidak sepenuhnya transparan.

Di sisi lain, Tiongkok juga memasarkan platform lain seperti J-10C dan jet tempur generasi lebih baru, sehingga JF-17 bukan satu-satunya—andalan utama—dalam portofolio ekspor Beijing.

 

Rantai Pasok

Pendukung Nawaz Sharif melambaikan bendera partai dalam sebuah rapat umum kampanye pemilihan umum di Hafizabad, provinsi Punjab, pada 18 Januari 2024. (Arif ALI/AFP)

Rantai pasok menambah risiko lain. JF-17 menggunakan mesin buatan Rusia yang diproduksi oleh perusahaan di bawah sanksi Barat terkait perang Ukraina. Ketidakpastian pasokan mesin berpotensi memengaruhi jadwal pengiriman, terutama jika permintaan meningkat.

Dari sisi rekam jejak, setelah dua dekade dipromosikan, JF-17 baru memiliki tiga pelanggan ekspor aktif. Ketiganya bukan angkatan udara besar dengan integrasi sistem Barat yang kompleks.

Pakistan mengklaim harga unit JF-17 berada di kisaran US$40–50 juta. Meski lebih murah dibandingkan jet tempur Barat, pesawat tersebut belum menawarkan ekosistem dukungan, pembiayaan, dan jalur peningkatan jangka panjang dengan skala yang sama.

Untuk saat ini, kisah ekspor JF-17 lebih banyak bertumpu pada pernyataan minat ketimbang kontrak final. Tanpa peningkatan kapasitas produksi, kepastian pasokan mesin, dan lonjakan pengiriman nyata, jet tempur ini masih menjadi program dengan ambisi global besar—namun ditopang kemampuan industri yang terbatas.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya