Mendagri Beberkan Langkah Percepatan Pemulihan PascaBencana Sumatera, Kinerja Diapresiasi

Mendagri Tito Karnavian menegaskan percepatan pemulihan pascabencana Sumatera dan Aceh tidak hanya menyasar normalisasi wilayah terdampak.

oleh Tim NewsDiterbitkan 18 Februari 2026, 19:25 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat Rapat Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana di Kota Banda Aceh, Aceh, Selasa (30/12/2025). (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Mendagri atau Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Tito Karnavian menegaskan percepatan pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar normalisasi wilayah terdampak, tetapi juga memastikan kepastian hunian bagi masyarakat.

Dalam rapat bersama Pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 18 Februari 2026, Mendagri Tito memaparkan progres pembangunan hunian sementara (huntara) yang telah mencapai sekitar 50 persen dari total usulan.

"Ini totalnya usulan huntara itu 16.688, yang sudah selesai dibangun 8.290 atau 50%. Huntap usulan dari semua Pemda 16.329, yang sedang dibangun 1.254. Ini yang perlu percepatan untuk huntap," ujar Tito, melalui keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).

Secara rinci, lanjut dia, di Aceh diusulkan 14.697 unit huntara. Sementara usulan hunian tetap (huntap) sebanyak 9.246 unit, dengan 302 unit di antaranya sedang dibangun.

"Di Sumatera Utara, terdapat 993 usulan huntara dan 893 unit telah selesai dibangun. Untuk huntap, terdapat 3.462 usulan dan 297 unit dalam tahap pembangunan," ucap Tito.

Ada pun, lanjut dia, di Sumatera Barat, usulan huntara mencapai 728 unit dan 721 unit telah rampung. Untuk huntap, dari 3.611 usulan, sebanyak 655 unit sedang dibangun.

 

Tetap Salurkan Bantuan Dana Tunggu

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian. (Sumber: Kemendagri)

Pemerintah juga tetap menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tidak tinggal di huntara, sebesar Rp1,8 juta untuk tiga bulan.

Tito menjelaskan, penyaluran bantuan telah mencapai 93,87 persen di Aceh, 99,47 persen di Sumatera Utara, dan 97,17 persen atau lebih kurang 96,48 persen di Sumatera Barat.

"Ini semua ditransfer by name by address sesuai dengan data yang sudah divalidasi oleh BPS. Ya, di Aceh ada 1.000 unit, kemudian di Sumut ada 1.103 dan di Sumbar 500 huntap," kata dia.

Selain progres hunian, Tito mengungkapkan jumlah pengungsi mengalami penurunan sangat signifikan. Pada Desember 2025, jumlah pengungsi sempat menembus lebih dari satu juta orang. Kini, kata dia, tersisa 12.994 orang yang masih berada di tenda pengungsian.

"Pengungsi tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 yang ada di tenda," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatra di Gedung DPR RI, Jakarta.

Di Sumatera Barat, tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda. Warga telah kembali ke rumah masing-masing, menempati huntara, atau tinggal sementara bersama keluarga sambil menunggu pembangunan huntap.

"Jadi Alhamdulillah untuk Sumatra Barat kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten kota yang terdampak, tidak terdapat pengungsi di tenda," papar Tito.

 

Wilayah Lainnya

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah dan Evaluasi Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam Program Tiga Juta Rumah yang berlangsung secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (9/2/2026).

Sementara itu, lanjut Tito, di Sumatera Utara masih terdapat 850 orang di tenda pengungsian di Tapanuli Tengah. Di Aceh, terdapat 12.144 warga yang masih berada di tenda, dengan jumlah terbanyak di Aceh Utara.

"Meski tren pengungsi menurun, upaya pemulihan infrastruktur masih terus dikebut. Beberapa daerah masih membutuhkan perhatian khusus," terang dia.

Di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, tumpukan kayu pascabanjir masih mengganggu akses jalan. Sedimentasi sungai juga menghambat fungsi normal aliran air.

"Di Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tengah, perbaikan sarana pendidikan menjadi prioritas. Sementara di Nagan Raya, normalisasi sungai terus dilakukan agar kembali berfungsi optimal," ucap Tito.

Pemerintah juga menangani fenomena tanah amblas yang memutus jalan kabupaten di Aceh Tengah. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat pemulihan menyeluruh di wilayah Sumatra terdampak bencana.

 

Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam pemulihan bencana yang dinilainya menunjukkan progres positif.

Menurut Trubus, capaian tersebut mencerminkan keberhasilan koordinasi dan orkestrasi antara pemerintah pusat dan daerah. “Pak Tito mampu mengorkestrasi pemerintah daerah untuk melakukan percepatan dalam pelayanan bencana ini,” ujar Trubus.

Ia menilai peran Tito sebagai Kasatgas sekaligus Mendagri memperkuat komunikasi dan kolaborasi lintas sektor dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Saya lihat peran pemerintah pusat yang justru Kasatgas sekaligus Mendagri ini mampu mengkomunikasi, mengkoordinasi, maupun mengkolaborasi berbagai persoalan pasca bencana itu," kata Trubus.

Di sisi lain, Trubus menekankan pentingnya optimalisasi teknologi informasi dalam pelayanan kebencanaan.

"Kalau yang paling mendasar adalah perlunya teknologi, pemanfaatan teknologi IT. Jadi misalnya untuk pelayanan bencana buat aplikasi. Nah, maksudnya bikin aplikasi-aplikasi yang mempercepat pelayanan," urainya.

"Jadi perangkat daerah itu dikasih perangkat, kepala desa, camat, lurah itu dikasih alat sendiri. Kayak HP sendiri, tapi itu sifatnya isinya hanya ini, hanya aplikasi itu, khusus proses laporan penanganan pasca bencana itu," pungkas Trubus.

Infografis Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya