Liputan6.com, Jakarta - Periode mudik Lebaran 2026 kian dekat. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi sebanyak 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan mudik tahun ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 76,25 juta orang diperkirakan menggunakan kendaraan pribadi.
Lonjakan pergerakan masyarakat ini dipastikan akan membebani infrastruktur jalan, terutama ruas tol di wilayah Pulau Jawa. Jalan Tol Trans Jawa diprediksi kembali menjadi tulang punggung arus mudik, sekaligus titik rawan kemacetan.
Advertisement
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai jalan tol akan semakin terbebani oleh puluhan juta kendaraan selama periode mudik Lebaran 2026.
Menurut dia, dari total pemudik yang menggunakan mobil pribadi, sebanyak 50,63 juta orang atau sekitar 66,40 persen memilih melintasi jalan tol.
“Pemudik yang menggunakan mobil untuk bepergian pada libur Lebaran memilih melewati jalan tol, kemacetan parah sulit dihindari. Solusi kuncinya bukan lagi sekadar menambah tol, melainkan membenahi jalan arteri agar pemudik punya pilihan jalur alternatif yang setara, baik dari segi keamanan maupun kenyamanan,” ujar Djoko dalam keterangan resmi, Rabu (18/2/2026).
Sejak 2019, Tol Trans Jawa memang menjadi opsi tercepat untuk memangkas waktu tempuh antar kota di Pulau Jawa. Namun, popularitas tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan lalu lintas yang lebih matang.
“Jalan tol maupun arteri di Jawa tidak dirancang untuk lonjakan volume ekstrem saat Lebaran. Oleh karena itu, pengaturan lalu lintas yang matang menjadi kunci utama,” tambahnya.
Djoko mengingatkan, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama di tengah potensi kepadatan lalu lintas yang tinggi.
Banyak masyarakat memilih jalan tol karena dinilai lebih nyaman dan aman, meski risiko macet tetap tinggi saat arus mudik dan balik. Sementara itu, jalur alternatif atau arteri menuntut kewaspadaan ekstra karena padatnya sepeda motor, minimnya rambu, serta penerangan jalan yang belum optimal di sejumlah titik.
Ia juga mengimbau pemudik untuk memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum berangkat.
“Jika terjadi kerusakan kendaraan, berhenti di jalur kiri dan segera menghubungi pusat pelayanan petugas untuk meminta bantuan. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima dengan BBM terisi penuh atau keterisian baterai mencukupi,” jelasnya.
Artinya, baik pengguna mobil bermesin konvensional maupun kendaraan listrik perlu melakukan pengecekan menyeluruh sebelum melakukan perjalanan jarak jauh.
Kemenhub Batasi Operasional Truk Sumbu Tiga ke Atas
Untuk mengantisipasi kepadatan, Kementerian Perhubungan juga akan membatasi operasional kendaraan angkutan barang selama masa angkutan Lebaran 2026.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, menyampaikan bahwa pengaturan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Pengaturan Lalu Lintas Jalan serta Penyeberangan Selama Masa Arus Mudik dan Arus Balik Angkutan Lebaran 2026.
“Sama halnya seperti angkutan lebaran tahun lalu ataupun nataru kemarin, diprediksi akan ada lonjakan pergerakan masyarakat dan untuk menjaga kelancaran lalu lintas serta meningkatkan aspek keselamatan jalan perlu ada pengaturan pada kendaraan-kendaraan logistik,” ujar Aan dalam keterangan resmi, Kamis (12/2/2026).
Pembatasan angkutan barang berlaku mulai 13 Maret 2026 pukul 12.00 waktu setempat hingga 29 Maret 2026 pukul 24.00 waktu setempat, baik di jalan tol maupun jalan non-tol atau arteri.
Adapun kendaraan yang dibatasi meliputi mobil barang dengan sumbu tiga atau lebih, mobil barang dengan kereta tempelan, kereta gandengan, mobil barang pengangkut hasil galian, hasil tambang, dan bahan bangunan
Meski demikian, distribusi barang tetap dapat dilakukan menggunakan kendaraan dengan dua sumbu, kecuali untuk hasil galian seperti tanah, pasir, batu, serta material bangunan seperti besi, semen, dan kayu.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus meningkatkan keselamatan selama periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Dengan lonjakan mobilitas yang signifikan, kesiapan infrastruktur, manajemen lalu lintas, serta kondisi kendaraan menjadi faktor krusial demi perjalanan yang aman dan lancar.