Tindakan Gianluca Prestianni pada Vinicius Junior Disebut Sebagai Pengecut

Micah Richards bereaksi keras atas dugaan rasisme Gianluca Prestianni kepada Vinicius Junior pada laga Benfica vs Real Madrid di Liga Champions 2025/2026.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 18 Februari 2026, 20:15 WIB
Vinicius Junior (kanan) mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Liputan6.com, Jakarta - Laga panas tersaji dalam duel Benfica vs Real Madrid pada leg pertama play-off 16 Besar Liga Champions 2025/2026. Laga di Estadio da Luz berakhir dengan skor tipis 1-0 untuk Real Madrid. Sorotan tertuju pada dugaan rasisme oleh Gianluca Prestianni.

Vinicius Junior menjadi pahlawan kemenangan Los Blancos lewat gol pada menit ke-50. Selepas gol tersebut, atmosfer pertandingan memanas. Terjadi ketegangan antarpemain yang membuat laga sempat terhenti.

Dalam situasi yang mulai mereda, muncul dugaan aksi rasisme dari Gianluca Prestianni kepada Vinicius. Gestur Prestianni yang menutup mulut dengan bajunya memicu spekulasi luas. Isu ini dengan cepat menyebar dan menjadi pembahasan utama.

Legenda Manchester City, Micah Richards, memberikan respons tegas. Ia menilai, jika tudingan itu benar, maka tindakan tersebut mencerminkan sikap pengecut yang tak bisa ditoleransi di sepak bola modern.


Richards: Jika Benar, Itu Tindakan Pengecut

Vinicius Junior mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AP Photo/Pedro Rocha)

Micah Richards yang kini menjadi pandit BBC Sport tidak menahan kritiknya. Ia berbicara lugas terkait dugaan ucapan rasisme tersebut. Menurutnya, tindakan seperti itu tidak memiliki tempat di sepak bola.

"Gianluca Prestianni adalah seorang pengecut, benar-benar pengecut karena tidak akan ada yang tahu, hanya dia dan Vinicius Junior," buka Richards dikutip dari BBC Sport.

Richards menyoroti gestur Prestianni saat insiden terjadi. Ia menilai ada kesan menyembunyikan sesuatu. Hal itu justru memperkuat kecurigaan publik.

"Dia sampai menutup mulutnya dengan bajunya dan sekarang kita harus membahas apakah itu benar-benar terjadi atau tidak," imbuh Richards.


Sorotan pada Reaksi Publik dan Media Sosial

Vinicius Junior mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni (kanan). (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Richards juga menilai reaksi Vinicius Junior berbicara banyak. Ia percaya pemain Real Madrid itu tidak mungkin mengada-ada dalam isu yang sangat sensitif seperti rasisme.

"Reaksi Vinicius, kau tahu, dia tidak akan berbohong tentang sesuatu yang seserius itu, ketika kau melihat momen itu, kau hampir merasa kasihan pada Vinicius, dan kemudian reaksi dari penonton yang memberinya kecaman," kata Richards.

Ia menambahkan, situasi semakin ironis karena korban dugaan justru mendapat tekanan. Media sosial mempercepat penyebaran opini, sering kali tanpa verifikasi yang matang.

"Semua orang sekarang ada di media sosial, orang-orang tahu apa yang terjadi dan dia malah mendapat kecaman setelah dialah yang diduga menjadi korban, menurutku itu tidak adil," tegas Richards.

Sumber: BBC Sport

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya