Saham Amazon Merosot 18%, Kapitalisasi Pasar Terpangkas Rp 7.573 Triliun

Lonjakan belanja modal Amazon USD 200 miliar untuk AI picu kekhawatiran investor yang berdampak terhadap harga saham Amazon.

oleh Haniah NabilahDiterbitkan 18 Februari 2026, 17:00 WIB
Saham raksasa e commerce dan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon, akhirnya menghentikan koreksi selama sembilan hari berturut-turut. (JASON REDMOND / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Saham raksasa e-commerce dan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon, akhirnya menghentikan koreksi selama sembilan hari berturut-turut. Pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, saham Amazon menguat lebih dari 1%. Akan tetapi, koreksi saham yang terjadi berdampak terhadap kapitalisasi pasar.

Kenaikan ini menjadi angin segar bagi investor, menyusul koreksi yang terjadi sejak awal Februari. Pada 2 Februari hingga Jumat pekan lalu, saham Amazon tercatat merosot sekitar 18%. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk sejak 2006 dan menghapus lebih dari USD 450 miliar atau Rp 7.573 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.830) dari kapitalisasi pasar perusahaan.

Investor Soroti Lonjakan Belanja AI

Tekanan terhadap saham Amazon tak lepas dari laporan kinerja kuartal IV yang dirilis awal bulan ini. Dalam laporan tersebut, manajemen mengungkapkan rencana belanja modal sebesar USD 200 miliar atau Rp 3.366 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.830) sepanjang tahun ini.

Angka tersebut melonjak hampir 60% dibandingkan tahun lalu dan lebih dari USD 50 miliar atau Rp 841,55 triliun di atas ekspektasi perkiraan Wall Street. Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), termasuk pembangunan pusat data, pengadaan chip, serta perangkat jaringan.

Lonjakan investasi ini memicu kekhawatiran investor terkait potensi tergerusnya arus kas bebas seiring semakin agresifnya perusahaan teknologi membangun infrastruktur AI.

Tak hanya Amazon, sejumlah raksasa teknologi lain seperti Alphabet, Microsoft, dan Meta juga diperkirakan meningkatkan belanja modal secara signifikan. Secara total, belanja modal keempat perusahaan tersebut diproyeksikan bisa menembus USD 700 miliar atau Rp 11.781 triliun tahun ini.

Pada perdagangan yang sama, saham Alphabet dan Microsoft masing-masing turun lebih dari 1%, sementara saham Meta melemah kurang dari 1%. Microsoft dan Alphabet bahkan mencatat sesi negatif kelima berturut-turut.

 

 

Kata Analis

Alex Crook mengambil gambar kantor Amazon bernuansa hutan hujan yang baru, The Spheres, di Seattle, Senin (29/1). Di dalamnya dibuat seperti taman besar dengan ruang-ruang terbuka, sehingga tidak ada ruang konferensi yang tertutup. (AP/Ted S. Warren)

CEO Amazon, Andy Jassy, membela strategi investasi besar-besaran tersebut. Dalam konferensi telepon ia menegaskan keyakinannya bahwa belanja modal itu akan “menghasilkan pengembalian yang kuat atas modal yang diinvestasikan.” diinvestasikan”.

Senada, CEO Amazon Web Services (AWS), Matt Garman, dalam wawancara dengan CNBC pekan lalu menyebut peningkatan capex akan memperkuat posisi perusahaan dalam memanfaatkan peluang AI di bisnis cloud.

Analis Wedbush menilai Amazon kini berada dalam “mode pembuktian” untuk meyakinkan investor lonjakan belanja modal dapat berujung pada imbal hasil yang solid. Meski demikian, Wedbush tetap mempertahankan peringkat outperform untuk saham Amazon.

Sementara itu,Direktur pelaksana dan analis riset Citizens,  Andrew Boone menyatakan tetap optimistis terhadap prospek AWS. Ia menyoroti rencana Amazon untuk menggandakan kapasitas pusat data pada 2027 sebagai pertumbuhan yang belum sepenuhnya dihargai pasar.

Dia menuturkan, penambahan kapasitas tersebut berpotensi mendorong percepatan pertumbuhan pendapatan AWS dalam beberapa tahun ke depan.Dengan langkah agresif di sektor AI, Amazon kini membuktikan bahwa investasi besar hari ini mampu menghasilkan pertumbuhan dan profitabilitas berkelanjutan di masa mendatang.

Rencana PHK Amazon Tak Sengaja Bocor Lewat Email Internal

Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Foto: Freepik

Sebelumnya, Amazon secara tidak sengaja mengungkap rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja di unit komputasi awan Amazon Web Services melalui email internal yang terkirim kepada karyawan. Email tersebut beredar pada Selasa pekan ini, dan langsung memicu kekhawatiran di kalangan pegawai, khususnya divisi cloud.

Melansir laman CNBC, Kamis (29/1/2026), Amazon menyebut adanya “perubahan organisasi” yang sedang berlangsung. Pesan tersebut ditulis Senior Vice President Applied AI Solutions AWS, Colleen Aubrey, yang mengakui bahwa keputusan tersebut tidak mudah dan berdampak besar bagi karyawan.

“Perubahan seperti ini sulit bagi semua orang. Keputusan ini dibuat dengan matang saat kami memposisikan organisasi dan AWS untuk kesuksesan jangka panjang,” tulis Aubrey dalam email tersebut.

Email itu juga merujuk pada pernyataan Kepala HR Amazon, Beth Galetti, serta menyebut bahwa perusahaan telah memberikan informasi kepada rekan-rekan yang terdampak di organisasi.

Menariknya, subjek email mencantumkan nama “Project Dawn” yang disebut telah dibatalkan. Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai proyek tersebut, dan diduga email tersebut dikirim secara tidak sengaja.

Sebelumnya, Amazon disebut-sebut akan mengumumkan gelombang PHK lanjutan paling cepat pekan ini. Berdasarkan sumber yang mengetahui situasi tersebut, unit AWS dan bisnis ritel Amazon termasuk divisi yang berpotensi terdampak.

Langkah ini melanjutkan kebijakan efisiensi Amazon setelah pada Oktober lalu perusahaan mengumumkan pemangkasan sekitar 14.000 karyawan.

PHK Masih Berlanjut

Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Foto: Freepik/drazen zigic

Manajemen juga menyatakan proses perampingan organisasi masih akan berlanjut hingga 2026 seiring upaya mengurangi lapisan manajemen dan birokrasi internal.

CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya menegaskan bahwa peningkatan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) turut mendorong efisiensi operasional perusahaan. Menurutnya, teknologi AI berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, Amazon juga tengah merombak bisnis bahan makanannya. Perusahaan mengumumkan penutupan sejumlah supermarket Fresh dan minimarket Go untuk memfokuskan investasi pada Whole Foods dan layanan pengiriman bahan makanan secara online.

Amazon dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal keempat setelah penutupan pasar pada 5 Februari mendatang. Pasar pun menanti sejauh mana langkah efisiensi ini akan memengaruhi kinerja keuangan raksasa ecommerce tersebut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya