Liputan6.com, Jakarta - GIF (22) diterima sebagai sopir bus PT Cahaya Wisata Transportasi setelah menjalani tes memarkirkan bus bukan tes mengemudi sebagaimana mestinya. Fakta ini terungkap setelah Polrestabes Semarang melakukan serangkaian penyelidikan terkait kecelakaan maut bus Cahaya Trans yang dikemudikan GIF di exit Tol Krapyak, KM 420-A, Kota Semarang, Senin (22/12/2025).
"Dalam proses rekruitmen, pengemudi bus atas nama saudara GIF tidak dilakukan tes mengemudi. tes dilakukan hanya tes mengemudikan bus hanya untuk parkir masuk garasi bus," kata Kapolrestabes Semarang Kombes M Syahduddi dalam konferensi pers di Mapolrestabes Semarang, dalam siaran live, Rabu (18/2/2026).
Advertisement
Usai menjalani pelatihan, GIF kemudian dipekerjakan sebagai sopir bus dan sudah membawa penumpang dengan rute Jakarta-Yogyakarta sebanyak delapan kali.
"Dalam latihan sebagai sopir bus, saudara GIF langsung mengemudikan dengan membawa penumpang sebanyak delapan kali dengan rute yang sama," lanjutnya.
Polisi juga mengungkap surat izin mengemudi (SIM) milik GIF. Hasilnya, ditemukan adanya perbedaan antra kartu fisik SIM yang dipegang GIF dengan data milik kepolisian.
"Terhadap pengemudi yang sudah ditetapkan tersangka oleh Satlantas Polrestabes Semarang atas nama GIF, di mana ada perbedaan antara SIM yang dikeluarkan oleh Satuan Lalu Lintas dengan SIM yang dimiliki poleh pengemudi atau sopir bus tersebut," ucap Syahduddi.
Pengakuan Korban Selamat
Sebelumnya diberitakan, Aviz Ahmad, warga Bogor, selamat dari insiden kecelakaan Cahaya Trans. Akibat kecelakaan ini, 16 orang penumpang dilaporkan meninggal dunia.
Bus dengan nomor polisi B 7201 IV membawa 34 penumpang dari Jatiasih, Jakarta, menuju Yogyakarta. Saat di pintu keluar tol diduga melaju kencang hingga kehilangan kendali di tikungan lalu menabrak pembatas jalan, dan terguling.
Saat itu, Aviz Ahmad tengah tertidur di dalam bus. Tiba-tiba, benturan keras terjadi. Penumpang berteriak. Aviz membuka mata, dan melihat Kondisi kacau di dalam bus.
"Saya tertidur saat perjalanan itu, tiba-tiba bus sudah terguling dan saya bangun sudah melihat penumpang saling bertumpukan dan darah ada di mana-mana," ucapnya.
Aviz Ahmad duduk di bagian belakang bus. Dia diselamatkan tim SAR dan langsung dirawat di RS Columbia untuk menjalani perawatan karena luka ringan.
"Saat itu suasana di dalam bus sangat kacau. Penumpang menjerit-jerit ketakutan. Ada pula yang menangis keras. Saya bisa keluar melalui jendela yang pecah dan dibantu tim SAR," katanya.
Total korban 34 orang, dengan 16 meninggal dunia (bertambah satu setelah evakuasi) dan 18 selamat, sebagian besar mengalami luka serius seperti patah tulang dan cedera kepala.