Mantan Menhub Budi Karya Sumadi Dipanggil KPK terkait Kasus DJKA

Mantan Menhub Budi Karya Sumadi dipanggil KPK sebagai saksi kasus DJKA

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 18 Februari 2026, 14:07 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tiba di Istana, Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menhub Budi Karya Sumadi (BKS) dipanggil KPK sebagai saksi pada kasus dugaan suap pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

"KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi, yakni saudara BKS selaku Menteri Perhubungan periode 2019-2024," ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada para jurnalis di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan Budi Karya Sumadi dipanggil untuk diperiksa pada kasus DJKA untuk wilayah Jawa Timur. Selain itu, dia mengatakan pemeriksaan Budi Karya Sumadi ​​​​​​bertempat di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

“Pemeriksaan dijadwalkan di gedung KPK Merah Putih,” jelas Budi.

Namun sampai dengan siang hari ini, Budi memastikan BKS belum kunjung hadir.

“Belum tiba,” Budi menandasi.

Duduk Perkara Kasus DJKA

Budi Karya Sumadi terakhir kali diperiksa KPK sebagai saksi kasus dugaan korupsi DJKA tersebut pada 26 Juli 2023. Kasus tersebut terkuak berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada 11 April 2023 di Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah DJKA Kemenhub.

Saat ini, BTP Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah telah berganti nama menjadi BTP Kelas I Semarang.

KPK lantas menetapkan 10 orang tersangka yang langsung ditahan terkait dengan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur rel kereta api di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

KPK Tetapkan 21 Tersangka

Setelah beberapa waktu atau hingga 20 Januari 2026, KPK telah menetapkan dan menahan sebanyak 21 tersangka. KPK juga telah menetapkan dua korporasi sebagai tersangka kasus tersebut.

Kasus dugaan tindak pidana korupsi tersebut terjadi pada proyek pembangunan jalur kereta api ganda Solo Balapan-Kadipiro-Kalioso; proyek pembangunan jalur kereta api di Makassar, Sulawesi Selatan; empat proyek konstruksi jalur kereta api dan dua proyek supervisi di Lampegan Cianjur, Jawa Barat; dan proyek perbaikan perlintasan sebidang Jawa-Sumatera.

Dalam pembangunan dan pemeliharaan proyek tersebut, diduga telah terjadi pengaturan pemenang pelaksana proyek oleh pihak-pihak tertentu melalui rekayasa sejak proses administrasi sampai penentuan pemenang tender.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya