Jurus Indonesia Lawan Gempuran Produk Impor China

Neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit akibat produk impor.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 15 Februari 2026, 11:01 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah tengah mendorong strategi diversifikasi impor usai Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit hingga Rp20 triliun. Tentunya, agar UMKM dalam negeri dapat bersaing melawan produk luar negeri. 

Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Satrio Adhitomo, mengatakan strategi itu guna mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri yang sejatinya bisa diproduksi di dalam negeri. 

“Artinya kita melakukan diversifikasi. Produk-produk apa yang sebenarnya kita impor dari China dan bisa diproduksi oleh kita, nah itulah yang kita fokuskan,” ujar Satrio dalam acara PROMISE II IMPACT, dikutip Minggu (15/2/2026).

Menurutnya, persoalan ini tidak terlepas dari perang harga. Produk China mampu masuk dengan harga sangat kompetitif, sehingga menguasai pasar domestik. Padahal, dari sisi kualitas, produk UMKM nasional dinilai tidak kalah.

“Kalau dari sisi kualitas sih produk UMKM kita nggak kalah dengan produk Cina. Cuma mungkin dari sisi harga kita agak kalah di situ,” jelasnya.

 

Siapkan Berbagai Insentif

Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Ekspor dan impor masing-masing anjlok 18,82 persen dan ‎27,26 persen pada momen puasa dan Lebaran pada bulan keenam ini dibanding Mei 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia menambahkan, pemerintah tengah menyiapkan berbagai insentif dan kebijakan untuk menekan biaya produksi UMKM agar harga jual produk dalam negeri bisa lebih bersaing. Salah satu langkah yang didorong adalah efisiensi dengan memangkas biaya-biaya yang tidak perlu.

“Bagaimana memangkas harga-harga yang tidak penting, melakukan efisiensi, sehingga bisa dipangkas,” ujarnya.

Satrio mencontohkan sejumlah barang sederhana seperti gunting, jarum, dan benang yang selama ini masih diimpor dari Cina, padahal secara kapasitas dan teknologi dapat diproduksi di dalam negeri.

“Itu kan sebenarnya bisa diproduksi sendiri. Ini yang harus dipikirkan,” kata dia. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya